Warna Alam dari Kulit Bakau Hingga Sabut Kelapa
INDRALAYA, TRIBUN - Daerah Muara Penimbung di Indralaya telah lama dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan songket di Ogan Ilir. Berbagai macam dan motif songket dihasilkan para pengrajin di Muara Penimbung yang terkenal sejak puluhan tahun lalu.
Salah satu pengrajin dan penjual songket kenamaan di Muara Penimbung adalah Mardiah. Wanita 45 tahun ini sejak belia telah memiliki kemahiran menenun kain songket. Kepada TribunSumsel.com, Mardiah menunjukkan beberapa sampel dari ratusan setel songket yang ada di galeri miliknya.
Songket di galeri ini macam-macam. Ada limar, bunga cina, bunga intan, lepus," kata Mardiah ditemui di galeri songket miliknya di Dusun VI Desa Muara Penimbung Ulu, Selasa (1/2). Adapun motif songket, diantaranya cantik manis, naga besaung, nampan perak, bintang berkait, biji pare dan lain-lain.
Kain songket yang ada di galeri tersebut bukan hanya hasil kreasi Mardiah, namun juga ada yang ditenun oleh warga desa setempat.
Selain jenis dan motif, Mardiah menjelaskan bahan pewarna songket ada yang berasal dari pewarna sintetis dan alam.
Bahan pewarna alam diantaranya daun dan kulit pohon mangga, daun dan kulit pohon jambu biji, kulit akar mengkudu dan kulit bakau. Sebagian bahan pewarna alam mudah didapatkan di Indralaya. Namun untuk kulit bakau, ini yang sulit di temukan," ungkap Mardiah.
Dia pun menunjukkan dua contoh songket bunga cina yang bahan pewarna nya dari alam. Songket bunga cina ini, kata Mardiah, memiliki ciri utama yakni bagian tengah dan sisi kain berbeda warna.
Kedua songket dengan jenis sama itu memiliki bahan dan warna yang berbeda.
"Untuk di Ogan Ilir, ini hasil kreasi kami yang oncak, bisa dibilang andalan. Bahan yang digunakan yakni sutra dan satunya lagi katun," jelas Mardiah.
Songket bunga cina pertama yang ditunjukkan, terbuat dari bahan sutra dengan warna dasar abu-abu yang berasal dari daun jambu biji.
Motifnya yakni kenanga dimakan ulat berwarna oranye kecoklatan yang terbuat dari kulit bakau. "Motifnya ini ada kombinasi bintik-bintik, jadinya bunga cina dan rakam," jelas Mardiah.
Songket bunga cina ini di banderol seharga Rp 8 juta, salah satu yang termahal di galeri Mardiah. Lalu satu songket bunga cina lainnya, terbuat dari bahan katun dengan warna dasar krem yang berasal dari sabut kelapa. Adapun motifnya yakni bintang pita berwarna mocca yang juga terbuat dari kulit bakau.
"Untuk harga yang dari bahan sutra dipatok Rp 5 juta," kata Mardiah.
Dilanjutkannya, permintaan meski menurun di masa pandemi, namun pengrajin songket khususnya di Muara Penimbung tetap disibukkan dengan adanya permintaan konsumen dari berbagai daerah.
"Permintaan biasanya seperti dari Muaraenim. Kemudian juga ada yang dari Jakarta dan Medan serta daerah lainnya," ucap Mardiah.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023