;

Mengamankan Pasar Obligasi

Ekonomi Hairul Rizal 29 Jan 2022 Bisnis Indonesia
Mengamankan Pasar Obligasi

Di tengah sentimen rencana kebijakan pengetatan moneter atau tapering off dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pasar obligasi negara pada tahun ini bakal terus menguat. Laju positif dari pasar obligasi negara tersebut dapat terlihat dari imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Indonesia yang masih menarik dibandingkan dengan negara lain. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, yield obligasi rupiah pada penutupan Jumat (28/1) menyentuh angka 6,46%. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan terus berkoordinasi dengan pemerintah, terutama Kementerian Keuangan, dalam menjaga yield differential dan tingkat imbal hasil surat berharga negara (SBN) tetap menarik. Dengan rencana kenaikan suku bunga The Fed (Federal Funds Rate/FFR) pada Maret 2022, BI memproyeksikan tingkat imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) akan naik hingga 2,2%, bahkan berpotensi meningkat hingga 2,5%.

Direktur Avrist Asset Management Farash Farich menilai, pemerintah tetap perlu meng­aman­­kan pasar obligasi dengan memperbanyak SBN yang menyasar pasar ritel untuk mengantisipasi keluarnya aliran modal sebagai respons penaikan suku bunga oleh The Fed. Berdasarkan data BI, aliran keluar modal asing pada pekan keempat Januari 2022 mencapai Rp5,34 triliun dengan didominasi pasar SBN sebesar Rp5,32 triliun. Menurutnya, Obligasi Negara Ritel (ORI), Savings Bond Ritel (SBR), dan Su­­kuk Ritel (Sukri) masih diminati in­vestor ritel karena yield yang menarik. “Saat ini tingkat deposito yang masih ren­dah juga dan minat investor individu berinvestasi masih tinggi,” ujar Fa­rash.

Tags :
#Obligasi
Download Aplikasi Labirin :