Rendah di Petani, Mahal di Pabrik
KARET, komoditi unggulan bagi sejumlah petani di Sumsel. Kini, harga mulai membaik. Di tingkat petani karet dihargai Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kg.
Komoditas ini menjadi aset ekonomi yang cukup berharga bagi masyarakat Muratara. Di daerah ini, hampir 70 % warga beprofesi sebagai petani karet.
Apri, petani karet asal Desa Karang Dapo mengaku harga karet awalnya berkisar Rp 6 - 8 ribu per kg di tingkat petani. Namun saat ini harga naik, Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu per kg.
Sebenarnya, harga karet ditentukan kadar kering dan kebersihan karet itu sendiri. "Jika banyak tatal itu dihargai Rp 7 - 8 ribu per kilo, sekarang karet lagi naik di pabrik tembus Rp 20 ribu per kg. Banyak warga berharap harga karet naik lagi karena bisa mewujudkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Petani juga berharap ada upaya pemerintah memperpendek selisih harga karet dari tingkat pabrik ke petani. Apalagi, petani selalu menjual karet kepengepul di sekitar desa mereka, ketimbang menjual secara langsung ke pabrik "Harga karet murah di tingkat petani itu karena banyak tangan, dari pengepul dusun, kirim ke pengepul desa, dari pengepul desa masuk ke pengepul besar, dari pengepul besar baru bisa masuk ke pabrik," bebernya.
Diakuinya, harga karet di tingkat petani dengan harga di tingkat pabrik selisihnya cukup jauh, sekitar 50 %. "Jika bisa diperpendek tentunya pendapatan masyarakat bisa lebih besar," harapnya. Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Muratara, Suhardiman melalui Kabid Sarana Prasarana dan Penyuluhan, Eko Mahendra mengakui, adanya kenaikan harga khususnya komoditas karet.
Penurunan dipengaruhi dua faktor. Di antaranya harga standar internasional dan kadar karet yang dijual belikan. Untuk KKK (kadar karet kering) 100 % Rp 20.659 per kg, KKK 70 % Rp14.461 per kg, KKK 60 % Rp 12.395 per kg. KKK 50 % Rp 10.330 per kg, dan KKK 40 % diharga Rp 8.264 per kg. "Itu harga internasional, untuk di Muratara mayoritas KKK rendah jadi harganya murah ada kenaikan Rp 18," bebernya.
Pihaknya berharap, petani karet bergabung membentuk kelompok tani dan meningkatkan kualitas karet mereka sehingga harga bisa bersaing di pasaran. "Jika mutu karetnya bagus tentu harganya juga tinggi," katanya.
Kenaikan harga karet juga terjadi di Banyuasin. Di tingkat pengecer, harga karet naik Rp 1.000 per kg. "Alhamdulillah harga karet naik," ujar petani karet.
Jika sebelumnya Rp 10 ribu/kg, sekarang menjadi Rp 11.000. "Kita harapkan terus meningkat ke depannya, "ungkapnya.
Diakuinya, dengan harga tersebut dirinya sangat bersyukur. Apalagi di masa pandemik Covid 19 ini banyak sekali butuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sembako dan lain sebagainya. "Kenaikan ini sudah hampir seminggu ini," katanya.
Armal, petani karet mengatakan, harga karet tak hanya naik di tingkat pengecer. Tapi juga pada harga tingkat pabrik atau pengepul dengan harga Rp 15 ribu/kg. "Sudah satu minggu ini naik, sekitar Rp 1.000 - Rp 2.000/kg, tergantung kualitasnya, imbuhnya.
Untuk alasan harga karet bisa mengalami kenaikan, dirinya kurang tahu persis. "Tapi saya berharap harga karet ini konsisten, kalau bisa hanya turun lagi," ucapnya
Kenaikan harga karet ternyata tak berlaku di PALI. Di daerah ini karet masih bertahan di harga lama. Untuk harga karet mingguan masih berkisar di angka Rp 6,5 ribu hingga Rp 7,5 ribu per kilograrnnya. Tergantung kualitas getah karet itu sendiri.
Semadi (47), petani karet di Kecamatan Abab mengatakan, dirinya sudah menjadi petani karet sejak puluhan tahun. "Kalau ada info naik kita sambut baik. Tapi saat ini harga jual kita terakhir sama seperti minggu lalu. Tapi di PALI ini harga beda-beda di masing-masing desa, karena pengepul melihat kualitas getah karet, Pak," ujarnya.
Nedi (41) petani lainnya mengatakan, saat ini memasuki musim penghujan, sehingga kualitas getah karet alami penurunan, dan produksi yang ikut menurun. "Kualitas dan produksi turun, tentu berpengaruh terhadap harga. Kita juga tidak bisa berbuat banyak. Karena, faktor alam yang menyebabkan itu. Tentu akan berpengaruh terhadap penghasilan kami, Pak," terangnya.
Hal yang sama juga terjadi di Muara Enim. Di musim penghujan ini produksi karet menurun. Ironisnya harga jual pun ikut mengalami penurunan.
Ketua Kelompok Tani Bina Mulya Desa Darmo, Sulbahri mengatakan harga jual karet bulanan saat ini adalah Rp 13.300 /kg dan untuk karet dua minggu Rp 11.300/kg. "Harga karet bulanan itu turun Rp 600 per kg dibandingkan sebelumnya," ujarnya.
Kondisi ini diperparah dengan musim penghujan yang membuat produksi karet menurun dibanding biasanya. "Kalau musim hujan memang menurun, ini jelas kondisi yang tidak baik karena harga jualnya juga turun," bebernya.
Satu satu jalan meningkatkan produksi dengan cara pemupukan, tapi itu pun juga memiliki masalah karena sulitnya mendapat pupuk subsidi. "Kalau subsidi harus menebus melalui RDKK ke pengecer, kita menebus pupuk bersubsidi itu melalui pengecer," terangnya.
Jika menggunakan pupuk non subsidi harganya cukup mahal. "Ya bagaimana mau menebusnya, harga karet saja turun dan terbilang rendah," ungkapnya. Untuk itulah, petani hanya bergantung pada kondisi alam dan berharap harga jual karet kembali meningkat sehingga kesejahteraan petani juga bisa tercapai. "Ini serba salah, kalau karet dijual harganya turun, kalau tidak dijual tidak bisa makan," tukasnya.
Sementara itu, tingginya curah hujan juga membuat galau petani karet di Empat Lawang. Hujan membuat mereka tidak bisa menyadap karet maksimal. "Hampir setiap hari hujan terus, membuat kami tidak bisa menyadap karet. Hal ini pasti terjadi setiap tahun," kata Heru (34), petani karet di Tebing Tinggi.
Sementara harga belum terlalu naik drastis. Entah apa yang menyebabkan harga jual karet di Bumi Saling Keruani Sangi Kerawati. Sampai saat ini masih stagnan di kisaran harga Rp 6.500 per kg.
Harga karet sejak awal tahun 2021 sampai sekarang hanya di kisaran Rp 6.000 sampai Rp 6.500 per kg. Jika pun alami kenaikan harga, ini tak akan berlangsung lama. "Memang pernah harga naik mencapai Rp.8000 per kg di tingkat petani namun hanya bertahan sekitar dua minggu. Setelah itu harga kembali terjun bebas," ungkapnya.
Postingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023