Perdagangan
( 594 )Kemendag Memasang Target Ambius
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memasang target ambisius dalam rangka mendukung target pertumbuhan ekonomi besar 8%. Ekspor ditargetkan mencapai US$ 405,69 miliar dengan pertumbuhan 9,64% pada 2029. Kepala badan kebijakan Perdagangan Kemendag Fajarini Puntodewi merinci, pada tahun depan, pihaknya menargetkan pertumbuhan ekspor 7,1% atau US$ 294,45 miliar. Lalu, pada 2026, pertumbuhan ekspor ditargetkan mencapai 7,09% atau US$ 315,31 miliar. Selanjutnya, pada 2027, target ekspor naik menjadi 7,89% atau US$ 340,20 miliar.
Sementara pada 2028, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 7,26%, maka ekspor perlu berkontribusi 8,77% atau US$ 370,04 miliar. Puncaknya pada 2029, target ekspor naik 9,64% untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%. "Jadi (target ekspor) antara 7,1% hingga 9,64%. Nah ini merupakam satu target yang cukup luar biasa," kata dia di Gambir Trade Talk (GTT). Fajarini mengakui target tersebut sangatlah besar, namun, dia tetap optimistis target ini akan tercapai mengingat ekspor Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Data Kemendag mencatat, nilai ekspor Indonesia periode Januari-September 2024, mencapai US$ 192,85 miliar atau naik 0,32% dibandingkan tahun sebelumnya. (Yetede)
Kemendag Memasang Target Ambius
Kementerian Perdagangan (Kemendag) memasang target ambisius dalam rangka mendukung target pertumbuhan ekonomi besar 8%. Ekspor ditargetkan mencapai US$ 405,69 miliar dengan pertumbuhan 9,64% pada 2029. Kepala badan kebijakan Perdagangan Kemendag Fajarini Puntodewi merinci, pada tahun depan, pihaknya menargetkan pertumbuhan ekspor 7,1% atau US$ 294,45 miliar. Lalu, pada 2026, pertumbuhan ekspor ditargetkan mencapai 7,09% atau US$ 315,31 miliar. Selanjutnya, pada 2027, target ekspor naik menjadi 7,89% atau US$ 340,20 miliar.
Sementara pada 2028, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 7,26%, maka ekspor perlu berkontribusi 8,77% atau US$ 370,04 miliar. Puncaknya pada 2029, target ekspor naik 9,64% untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%. "Jadi (target ekspor) antara 7,1% hingga 9,64%. Nah ini merupakam satu target yang cukup luar biasa," kata dia di Gambir Trade Talk (GTT). Fajarini mengakui target tersebut sangatlah besar, namun, dia tetap optimistis target ini akan tercapai mengingat ekspor Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Data Kemendag mencatat, nilai ekspor Indonesia periode Januari-September 2024, mencapai US$ 192,85 miliar atau naik 0,32% dibandingkan tahun sebelumnya. (Yetede)
Indonesia Mendukung Reformasi Kembali Serukan Reformasi WTO
Kesempatan Emas Indonesia Menyambut Relokasi Industri
Intensifikasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dari relokasi perusahaan-perusahaan yang terdampak oleh konflik ini. Sejak 2018, Indonesia telah menerima relokasi dan diversifikasi investasi dari berbagai perusahaan global yang berjumlah US$14,7 miliar, dengan sektor-sektor seperti manufaktur, makanan, elektronik, dan tekstil yang menjadi sasaran. Pemerintah Indonesia, melalui BKPM, berfokus pada peningkatan daya saing dan iklim investasi, terutama di sektor-sektor prioritas seperti pengolahan sumber daya alam, riset dan inovasi, serta sektor pendidikan dan kesehatan.
Namun, tantangan tetap ada, terutama karena Indonesia lebih berbasis pada komoditas, sedangkan negara-negara dengan sektor manufaktur yang lebih kuat, seperti Vietnam dan Malaysia, cenderung lebih diuntungkan oleh pergeseran rantai pasok global. Kendati demikian, Indonesia masih memiliki peluang, seperti dalam menerima relokasi pabrik tekstil dari Vietnam. Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke China dan AS juga menunjukkan bahwa Indonesia berupaya memperkuat hubungan investasi dengan kedua negara tersebut, yang menghasilkan kesepakatan investasi signifikan.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat tantangan dalam memanfaatkan peluang dari perang dagang ini, Indonesia dapat memanfaatkan dinamika geoekonomi untuk memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi alternatif.
Kesempatan Emas Indonesia Menyambut Relokasi Industri
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China berpotensi menambah tantangan ekonomi global, Indonesia dapat melihatnya sebagai peluang untuk menarik investasi dan relokasi perusahaan. Sejak 2019, Indonesia telah menerima investasi senilai US$14,7 miliar dari perusahaan-perusahaan yang terdampak perang dagang, yang berasal dari AS, Eropa, dan Asia. Pemerintah Indonesia, melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), kini berfokus pada peningkatan daya saing dan iklim investasi dengan memperbaiki sistem perizinan dan menargetkan sektor-sektor prioritas seperti penghiliran sumber daya alam, riset dan inovasi, serta sektor pendidikan dan kesehatan.
Namun, meskipun peluang investasi ini ada, beberapa analisis, seperti yang disampaikan oleh Moody's Analytics, menunjukkan bahwa Indonesia mungkin tidak mendapat banyak manfaat dari pergeseran rantai pasok, karena basis ekonominya lebih berfokus pada komoditas dan bukan manufaktur berbasis elektronik. Ekonom lain, seperti Yusuf Rendy Manilet dari Core Indonesia, juga menyarankan bahwa negara-negara seperti Vietnam dan Malaysia yang memiliki sektor manufaktur yang lebih kuat mungkin lebih diuntungkan dari perang dagang ini.
Di sisi lain, Indonesia tetap berpeluang menerima relokasi industri tertentu, seperti pabrik tekstil dari Vietnam, dan upaya diplomatik Presiden Prabowo Subianto, seperti kunjungannya ke China dan AS, turut memperkuat komitmen investasi kedua negara tersebut di Indonesia. Indonesia juga telah mengamankan kerja sama investasi senilai US$10,07 miliar dengan China, yang mencakup pengembangan sektor perikanan, sumber daya mineral, dan energi hijau.
Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan dalam bersaing dengan negara-negara lain, Indonesia masih memiliki potensi untuk memanfaatkan dampak perang dagang AS-China sebagai peluang untuk menarik lebih banyak investasi dan memperkuat industrinya.
Strategi Inovatif untuk Meningkatkan Penjualan
Meskipun program subsidi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) di Indonesia telah membantu meningkatkan adopsi motor listrik di masyarakat, ketergantungan pada subsidi masih menjadi tantangan besar bagi produsen. Pada tahun 2024, habisnya kuota subsidi untuk motor listrik menandakan adanya minat yang besar dari konsumen terhadap kendaraan yang ramah lingkungan, namun ketidakpastian mengenai kelanjutan subsidi di masa depan dapat mengurangi antusiasme konsumen karena harga jual yang lebih mahal tanpa dukungan subsidi.
Para produsen motor listrik, seperti Purbaja Pantja dari PT Indika Energy dan PT Electra Mobilitas Indonesia (ALVA), mengakui pentingnya subsidi dalam memperkenalkan produk ke pasar. Meskipun demikian, mereka juga percaya bahwa keberlanjutan industri motor listrik memerlukan inovasi dan kualitas produk yang tinggi serta kerjasama dengan lembaga pembiayaan untuk tetap mempertahankan gairah pasar. Purbaja juga meyakini bahwa dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang manfaat kendaraan listrik bagi efisiensi dan keberlanjutan lingkungan, permintaan motor listrik akan tetap berkembang meskipun tanpa subsidi pemerintah.
Produsen lain seperti Kevin Phang dari Smoot Motor Indonesia dan Wilson Wirawan dari PT Ninetology Indonesia juga menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan subsidi dengan syarat ketat, seperti peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), agar produsen dalam negeri dapat bersaing dengan produk impor. Meskipun beberapa perusahaan, seperti Electrum, menghadapi kendala kuota subsidi yang terbatas, mereka terus fokus pada inovasi dan pengembangan produk untuk menarik konsumen tanpa mengandalkan subsidi.
Di sisi lain, Okie Octavia Kurniawan dari Volta menekankan bahwa penentuan jumlah unit yang mendapat subsidi harus berdasarkan kajian mendalam, mempertimbangkan target adopsi kendaraan listrik nasional, anggaran pemerintah, kapasitas pasar, dan strategi pengembangan industri otomotif.
Secara keseluruhan, meskipun subsidi telah memberikan dorongan awal yang signifikan bagi pasar motor listrik di Indonesia, keberlanjutan industri ini memerlukan perbaikan dalam kebijakan, inovasi produk, dan peningkatan kualitas untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang tanpa ketergantungan pada subsidi pemerintah.
Surplus Terjadi Karena Kinerja Impor yang Anjlok
SUDAH 53 bulan berturut-turut neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus. Rekor ini berpotensi berlanjut hingga akhir tahun. Namun sejumlah ahli menyoroti kualitas surplus tersebut. Pada periode awal surplus yang terjadi mulai Mei 2020, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia Mohammad Faisal mencatat surplus terjadi karena kinerja impor yang anjlok, lebih dalam dibanding pelemahan ekspor. Surplus yang terjadi di tengah kondisi tersebut, menurut Faisal, tak sehat. Idealnya, surplus ditopang pertumbuhan ekspor. Kondisi ideal ini yang terjadi pada 2021-2022. Saat itu pandemi mendorong kenaikan harga komoditas. Indonesia yang mengandalkan komoditas untuk ekspor ketiban untung. "Surplus kita sehat saat itu karena didorong ekspor yang lebih tinggi dibanding impor," tuturnya, Selasa, 29 Oktober 2024.
Namun harga komoditas mulai melemah menjelang akhir 2022 hingga memasuki 2023. Kinerja ekspor perlahan melambat. Surplus neraca perdagangan masih terjadi karena kontraksi pada impor lebih tajam. Nilai surplus akibatnya perlahan berkurang. Kondisi serupa masih terjadi pada 2024. Faisal memperkirakan, hingga akhir tahun, surplus neraca dagang mungkin terjadi, tapi nilainya berpotensi makin tipis. Tahun ini, sepanjang Januari-September, nilai surplus neraca dagang Indonesia mencapai US$ 21,98 miliar. Nilainya naik tipis, hanya 0,39 persen, dibanding periode yang sama tahun lalu.
Per September, nilai surplus neraca dagang sebesar US$ 3,26 miliar. Pada bulan tersebut, total ekspor mencapai US$ 22,08 miliar, turun 5,80 persen dibanding bulan sebelumnya. Sedangkan impor sebesar US$ 18,82 miliar atau turun 8,91 persen dibanding bulan sebelumnya. Faisal menyoroti pelemahan impor disebabkan oleh impor bahan baku dan penolong yang anjlok hingga 9,69 persen, barang modal turun 7,15 persen, dan barang konsumsi turun 4,53 persen. Melansir pernyataan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan pada 18 Oktober 2024, kinerja ini berkaitan dengan kondisi manufaktur yang sedang melemah. "Penurunan impor seiring dengan indikator Purchasing Managers' Index Indonesia periode September 2024 yang masih berada di zona kontraktif sebesar 49,2," tuturnya. (Yetede)
Mendukung Perdagangan untuk Tumbuh Lebih Pesat
Sektor perdagangan Indonesia tengah mendapatkan sentimen positif, terlihat dari kenaikan peringkat Sustainable Trade Index (STI) ke posisi 18 dunia menurut Hinrich & International Institute for Management Development (IMD). Peringkat ini mencerminkan kemampuan Indonesia dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengelolaan lingkungan. Meskipun berhasil mengungguli India dan Rusia, Indonesia masih berada di belakang negara-negara seperti Singapura dan Thailand.
Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BKPerdag), Fajarini Puntodewi, menyatakan bahwa kenaikan peringkat ini menunjukkan soliditas kinerja perdagangan nasional. Namun, tantangan seperti stabilitas politik dan angka harapan hidup perlu diperhatikan. Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, berharap pemerintah, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, dapat memperluas perjanjian dagang untuk meningkatkan ekspor, khususnya dengan negara-negara nontradisional.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, juga menekankan pentingnya kemitraan ekonomi dan menyebut Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif dengan Uni Eropa sebagai prioritas. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menyoroti bahwa perdagangan internasional Indonesia belum cukup memberikan dampak positif dalam aspek ekonomi dan sosial, menandakan perlunya perbaikan di sektor infrastruktur perdagangan dan diversifikasi.
Secara keseluruhan, meski ada pencapaian yang membanggakan, pemerintah dan pelaku industri diharapkan terus berupaya meningkatkan daya saing perdagangan untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.
Tiga Andalan Menteri Perdagangan
Defisit Neraca Dagang Pertanian
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022








