Defisit Neraca Dagang Pertanian
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen, sektor pertanian perlu didorong tumbuh minimal 4,7 persen. Salah satunya melalui hilirisasi pertanian yang tidak hanya berorientasi pada ekspor, tetapi juga ketahanan pangan dan substitusi impor. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh secara bertahap hingga mencapai 8 persen pada 2045. Namun, presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka menjanjikan ekonomi Indonesia bisa tumbuh 8 persen di periode kepemimpinan mereka pada 2024-2029. Direktur International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) IPB University Sahara, Kamis (17/10/2024), mengatakan, sebentar lagi, Indonesia akan memasuki tahap kedua transformasi menuju Indonesia Emas, yakni 2025-2035. Dalam tahap itu, Bappenas menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 7 persen.
”Dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar itu, Bappenas menargetkan sektor pertanian tumbuh 11,8 persen,” ujarnya dalam Gambir Trade Talk #16 bertajuk ”Peluang dan Tantangan Peningkatan Kompleksitas Ekspor Pertanian Indonesia” yang digelar Badan Kebijakan Perdagangan secara hibrida di Jakarta. Bersama sejumlah lembaga lain, lanjut Sahara, ITAPS juga menghitung dan menentukan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan 5-8 persen. Tingkat pertumbuhan 8 persen diistilahkan sebagai pertumbuhan ambisius 7 persen tinggi, 6 persen medium, dan 5 persen rendah. ”Dalam penghitungan itu, agar pertumbuhan 8 persen tercapai, sektor pertanian harus tumbuh minimal 4,7 persen. Ini agak berat, mengingat rata-rata pertumbuhan sektor itu secara historis, yakni pada 2003-2023, hanya 3,3 persen,” katanya.
Menurut Sahara, berbagai upaya perlu dilakukan agar target minimal pertumbuhan sektor pertanian dapat tercapai. Tidak cukup dengan upaya meningkatkan produksi, tetapi juga perlu dibarengi hilirisasi serta memanfaatkan riset dan teknologi. Ia mencontohkan, IPB University telah menghasilkan sejumlah riset dan pengembangan sejumlah komoditas, seperti kelapa sawit, kopi, beras, rumput laut, tuna, tongkol, cakalang, dan udang. Salah satu hasilnya terkait dengan hilirisasi adalah produk turunan kelapa sawit Indonesia rata-rata masih di level ke-4 dan ke-5. ”Indonesia tertinggal dari Malaysia yang produk turunan sawitnya rerata di level ke-6 dan ke-7. Negara tersebut bahkan telah mengembangkan produk turunan sawit untuk bahan baku kosmetik yang nilai tambahnya 552 kali lipat,” kata Sahara. Ia juga menekankan agar hilirisasi berbagai komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan tidak hanya berorientasi pada ekspor. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023