Kesempatan Emas Indonesia Menyambut Relokasi Industri
Intensifikasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dari relokasi perusahaan-perusahaan yang terdampak oleh konflik ini. Sejak 2018, Indonesia telah menerima relokasi dan diversifikasi investasi dari berbagai perusahaan global yang berjumlah US$14,7 miliar, dengan sektor-sektor seperti manufaktur, makanan, elektronik, dan tekstil yang menjadi sasaran. Pemerintah Indonesia, melalui BKPM, berfokus pada peningkatan daya saing dan iklim investasi, terutama di sektor-sektor prioritas seperti pengolahan sumber daya alam, riset dan inovasi, serta sektor pendidikan dan kesehatan.
Namun, tantangan tetap ada, terutama karena Indonesia lebih berbasis pada komoditas, sedangkan negara-negara dengan sektor manufaktur yang lebih kuat, seperti Vietnam dan Malaysia, cenderung lebih diuntungkan oleh pergeseran rantai pasok global. Kendati demikian, Indonesia masih memiliki peluang, seperti dalam menerima relokasi pabrik tekstil dari Vietnam. Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke China dan AS juga menunjukkan bahwa Indonesia berupaya memperkuat hubungan investasi dengan kedua negara tersebut, yang menghasilkan kesepakatan investasi signifikan.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat tantangan dalam memanfaatkan peluang dari perang dagang ini, Indonesia dapat memanfaatkan dinamika geoekonomi untuk memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi alternatif.
Tags :
#PerdaganganPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023