Perbankan
( 2293 )Bank Dunia Menyoroti Posisi Utang Pemerintah RI
Pinjaman Bank Kini Lebih Mahal daripada Obligasi
Obligasi Jadi Opsi Pendanaan Bank di Tengah Tekanan
Di tengah ketidakpastian global dan perlambatan ekonomi domestik, industri perbankan nasional tengah menghadapi tantangan serius, terutama terkait krisis likuiditas. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia mencatat menurunnya pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) serta meningkatnya rasio loan to deposit (LDR), yang menjadi indikator sempitnya ruang gerak likuiditas perbankan. Dalam merespons situasi ini, sejumlah bank besar memilih menerbitkan obligasi sebagai strategi pendanaan alternatif.
Namun, menurut teori Pecking Order dari Donaldson dan Myers, penerbitan utang seperti obligasi seharusnya menjadi opsi kedua setelah laba ditahan. Penerbitan obligasi saat ini memuat berbagai tujuan, mulai dari refinansi utang, antisipasi suku bunga tinggi, hingga ekspansi kredit hijau. Sayangnya, efektivitas langkah ini masih dipertanyakan karena dana hasil obligasi cenderung hanya berpindah antarbank dan tidak benar-benar menambah suplai dana segar ke sistem perbankan.
Presiden Prabowo Subianto, sebagai tokoh pemangku kebijakan, telah menetapkan target ambisius pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang sangat bergantung pada peran aktif perbankan dalam pembiayaan program prioritas nasional, termasuk transisi menuju ekonomi hijau. Untuk mendukung itu, insentif seperti Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) telah digulirkan sejak April 2025. Meski begitu, tantangan internal perbankan sendiri, seperti konsolidasi dan manajemen risiko kredit, masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Dengan demikian, penerbitan obligasi oleh bank-bank besar seharusnya tidak dipandang sebagai solusi jangka pendek semata, melainkan sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional agar mampu menopang agenda pembangunan jangka panjang.
Afrika Tunjukkan Inovasi Pembayaran Bebas Dolar
Afrika Tunjukkan Inovasi Pembayaran Bebas Dolar
Produsen Emas PT Archi Indonesia Bidik Pertumbuhan Produksi 25%
Produsen emas PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menargetkan pertumbuhan produksi 25% pada 2025, dibandingkan 2024 sebesar 93,4 kilo ons (koz). Adapun penjualan emas tahun lalu mencapai 97,1 koz. Kenaikan produski 2025 Archi bakalan ditopang penambangan kembali di pit Araren, pembukaan pit baru di bagian utara konsesi, serta dimulainya penambangan bawah tanah. Pada 2024, ARCI mencetak kenaikan pendapatan sebesar 14,2% menjadi US$ 287,6 juta, naik dari 2023 sebesar US$ 249,6 juta. Perseroan mencetak laba bersih sebesar US$ 10,4 juta. Dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), manajeman Arci menjabarkan strategi solid untuk meningkatkan pertumbuhan produksi dan memperkuat diversifikasi bisnis ke sektor energi terbarukan. Direktur Utama ARCI Rudi Suhendra menyampaikan, hasil 2024 mencerminkan soliditas kinerja operasional dan keuangan Perusahaan. Fokus perseroan ke depan adalah akselerasi produksi dan pengembangan strategi. Dia menegaskan, sepanjang 2024, ARCI melakukan kegiatan eksplorasi secara intensif dan berkelanjutan pada 427 titik pengeboran dengan total 75.807 meter. Salah satu temuan paling signifikan dari pengeboran eksploirasi terindentifikasi di bagian utara konsesi pada kuartal III-2024. "Ditemukan bijih emas kadar tinggi sebesar 60 gr per ton dengan ketebalan 36m di kedalaman 178-214 m meter. Pengambangan tambang sawah tanah pit Kopra menunjukkan hasil yang positif pada 5 Desember 2024," kata dia. (Yetede)
Transaksi Digital Melaju Kencang
Bank Masih Dilema Menurunkan Bunga Kredit
Kemenlu Siapkan Evakuasi WNI di Iran
NIM yang Terus Mengalami Tekanan
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023








