Pasar Modal
( 326 )Performa Buyback Emiten Masih di Bawah Ekspektasi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Inarno Djajadi, mencatat bahwa realisasi pembelian kembali saham (buyback) tanpa persetujuan RUPS masih tergolong rendah, hanya mencapai 5,55% dari total rencana dana Rp16,9 triliun dalam periode 20 Maret—30 April 2025. Meskipun terdapat 32 emiten yang mengajukan rencana buyback, hanya 24 yang telah merealisasikannya dengan nominal sekitar Rp937,42 miliar. Beberapa emiten besar seperti PT Telkom Indonesia, Adaro, Medco, dan Mayora termasuk dalam daftar yang mengalokasikan dana signifikan untuk buyback saham mereka.
Inarno menegaskan bahwa buyback dilakukan berdasarkan POJK No. 13/2023 dan POJK No. 29/2023, yang mempertimbangkan arus kas sebagai salah satu kriteria penting, namun tidak menjadi satu-satunya acuan analisis oleh OJK. Selain itu, untuk menjaga stabilitas pasar di tengah dinamika global, OJK juga telah mengambil langkah mitigatif seperti penundaan transaksi short selling, penyesuaian batas trading halt, dan penerapan asymmetric auto rejection.
Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bahwa langkah-langkah OJK diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor dan meningkatkan kembali partisipasi aktif di pasar modal Indonesia.
IHSG Siap Uji Level 7.000
Tren Optimistis IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan kedua Mei 2025 melanjutkan tren kenaikan harga atau bullish sejak pertengahan April lalu. Tren ini terjadi di tengah banyaknya tantangan ekonomi dari dalam dan luar negeri, dari potensi penurunan suku bunga The Fed yang tidak signifikan hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. IHSG, Senin (5/5) dibuka di level 6.844 dan berhasil mempertahankan tren kenaikan hingga 6.851 pada penutupan sesi pertama perdagangan. Pengamat pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, mengatakan, IHSG mulai menunjukkan kenaikan sejak minggu lalu ketika berhasil menguat 2 % ke level 6.815.
Dalam tiga hari berturut-turut pada awal Mei, asing kembali melakukan pembelian bersih di pasar saham dengan total Rp 300 miliar. Pada waktu bersamaan, nilai tukar rupiah kembali menguat selama pekan lalu, dengan ditutup pada angka Rp 16.400 per USD, posisi terkuat sejak pertengahan Maret 2025. ”Faktor penggerak IHSG pada minggu ini salah satunya dari aliran dana asing yang tercatat mulai masuk ke bursa saham Indonesia pada minggu lalu. Aliran dana asing tercatat net buy (melakukan pembelian bersih) sebesar Rp 292 miliar dalam kurun waktu seminggu terakhir,” tuturnya kepada Kompas. (Yoga)
Belum Meredanya Tantangan Kinerja Emiten BUMN
Kinerja BUMN yang terdaftar di pasar saham Indonesia, cenderung melambat hingga akhir tahun 2024 dan diprediksi akan terus menurun pada 2025. Dinamika ekonomi di dalam dan di luar negeri turut memberi dampak negatif terhadap kinerja berbagai sektor emiten BUMN ke depan. BCA Sekuritas, yang mengompilasi laporan kinerja 37 perusahaan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sampai akhir 2024, mencatat bahwa salah satu indikator kinerja berupa revenue atau pendapatan kotor emiten BUMN rata-rata masih di zona positif. Namun, pertumbuhan revenue menurun pada triwulan akhir dan lebih rendah dibanding level pertumbuhan pada triwulan kedua dan ketiga 2024.
Pengeluaran untuk modal kerja atau capital expenditure (capex) per tiga bulan pada 2024 dinamis, tetapi juga melambat pada triwulan akhir. Rasio earnings per share (EPS) atau laba per saham rata-rata dari emiten BUMN hingga triwulan IV-2024 terus naik hingga nilai 5, tertinggi setelah rasio EPS pada triwulan I-2023. EPS adalah indikator berapa banyak laba bersih yang dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar. Semakin besar nilai EPS, profitabilitas saham semakin baik. Namun, naiknya EPS saham BUMN di tengah turunnya revenue mengindikasikan berkurangnya kepemilikan saham oleh publik.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, Sabtu (26/4) juga mengamati, emiten BUMN, khususnya yang masuk dalam konstituen Indeks BUMN20, yang memuat 20 emiten BUMN berkinerja baik, banyak yang masih mencatatkan kinerja positif. Khususnya, emiten di sektor bahan baku, utilitas, dan perbankan. Audi tidak menampik adanya tren penurunan pendapatan dan saham pada banyak emiten BUMN di berbagai sektor. Hal ini tidak lepas dari tekanan ekonomi dan politik global yang bahkan menjalar hingga triwulan awal 2025. ”Kami berpandangan performance perusahaan BUMN pada 2024 menghadapi banyak tantangan,” ujar Audi. Diantaranya dari terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang memberi sentimen negatif pada perdagangan global hingga depresiasi rupiah. (Yoga)
Pemulihan Pasar Modal Masih Bayang-Bayang
Saham Murah Tapi Risiko Masih Tinggi
Dana Lokal Jadi Andalan Investasi
Saham Bank Digital Belum Menggoda Meski Untung Besar
Awal tahun 2025, sejumlah bank digital mencatatkan pertumbuhan laba yang impresif, seperti Bank Jago (ARTO) yang membukukan kenaikan laba sebesar 214,7% menjadi Rp 39,8 miliar, dan Bank Neo Commerce (BBYB) yang lonjakannya bahkan mencapai 902,8% menjadi Rp 110,9 miliar. Namun, pencapaian kinerja positif ini tidak tercermin dalam pergerakan harga saham, yang justru mengalami tren penurunan signifikan sejak awal tahun.
Tjit Siat Fun, Direktur Kepatuhan Bank Jago, menekankan bahwa fundamental Bank Jago tetap sehat, namun pergerakan saham dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk sentimen global. Hal ini diamini oleh David Wirawan, SVP Finance Bank Amar Indonesia, yang menyebutkan pentingnya transparansi dan inovasi untuk menjaga kepercayaan investor.
Menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas, tekanan pasar global, seperti kenaikan tarif impor AS, depresiasi rupiah, dan kebijakan pemerintah, ikut membebani saham bank digital. Persaingan pun kian ketat, sebab bank-bank konvensional mulai masuk ke ranah digital dengan valuasi yang lebih menarik.
Muhammad Nafan Aji Gusta Utama dari Mirae Asset Sekuritas juga mencatat bahwa tekanan dari arah kebijakan The Fed dan risiko likuiditas membuat bank digital harus mempertimbangkan penguatan struktur keuangan, bahkan membuka opsi merger. Audi menambahkan, investor kini lebih rasional dan menuntut profitabilitas serta efisiensi, bukan sekadar pertumbuhan pengguna.
Meski menghadapi tekanan, prospek bank digital tetap terbuka, khususnya bagi yang terintegrasi dengan ekosistem grup. Audi masih merekomendasikan speculative buy untuk saham AGRO dan ARTO, mengindikasikan adanya peluang jangka pendek di tengah tekanan jangka menengah.
Persaingan Ketat Rebut Dana di Pasar Utang
Di tengah gejolak berkepanjangan di pasar saham global, korporasi Indonesia justru menunjukkan optimisme dengan mengalihkan strategi pendanaan mereka ke pasar surat utang. Lonjakan emisi surat utang korporasi yang mencapai Rp46,75 triliun pada kuartal I/2025, menurut laporan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), mencerminkan keyakinan korporasi untuk tetap berekspansi meskipun situasi ekonomi global penuh ketidakpastian.
Suhindarto, ekonom dari Pefindo, menjelaskan bahwa kebutuhan refinancing yang tinggi, prospek ekonomi domestik yang solid, dan potensi pelonggaran moneter menjadi katalis positif yang mendorong pertumbuhan pasar obligasi korporasi. Dukungan terhadap konsumsi dan investasi domestik dianggap cukup kuat untuk menjaga stabilitas.
CEO Pinnacle Investama, Guntur Putra, juga menyoroti bahwa likuiditas di pasar tetap cukup berkat dukungan institusi domestik, walaupun ia mengingatkan bahwa kompetisi ketat dengan Surat Utang Negara (SUN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bisa meningkatkan biaya pendanaan bagi korporasi.
Head of Business Development Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi, menekankan pentingnya sinergi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pendanaan negara dan sektor riil, guna mencegah efek crowding out.
Sementara itu, dari sisi korporasi, perusahaan BUMN karya seperti PT Wijaya Karya (WIKA) melalui Sekretaris Perusahaan Mahendra Vijaya dan PT Adhi Karya (ADHI) melalui Rozi Sparta tetap optimistis melakukan refinancing dan ekspansi dengan memanfaatkan peluang pasar surat utang, meskipun dihadapkan pada tantangan volatilitas ekonomi dan persaingan likuiditas.
Fenomena ini juga tercermin dari perilaku investor ritel seperti Matthew (18 tahun) yang memilih berinvestasi di emas fisik untuk menjaga nilai asetnya di tengah ketidakpastian global, menambah bukti bahwa aset-aset berbasis yield dan safe haven kini lebih menarik perhatian.
Keseluruhan dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan global membayangi, korporasi Indonesia masih memandang prospek jangka panjang secara positif, dengan strategi pendanaan yang lebih hati-hati dan adaptif terhadap perubahan lanskap keuangan global.
Korporasi Beri Sinyal Positif Terhadap Pasar Modal
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









