Pasar Modal
( 329 )Persaingan Ketat Rebut Dana di Pasar Utang
Di tengah gejolak berkepanjangan di pasar saham global, korporasi Indonesia justru menunjukkan optimisme dengan mengalihkan strategi pendanaan mereka ke pasar surat utang. Lonjakan emisi surat utang korporasi yang mencapai Rp46,75 triliun pada kuartal I/2025, menurut laporan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), mencerminkan keyakinan korporasi untuk tetap berekspansi meskipun situasi ekonomi global penuh ketidakpastian.
Suhindarto, ekonom dari Pefindo, menjelaskan bahwa kebutuhan refinancing yang tinggi, prospek ekonomi domestik yang solid, dan potensi pelonggaran moneter menjadi katalis positif yang mendorong pertumbuhan pasar obligasi korporasi. Dukungan terhadap konsumsi dan investasi domestik dianggap cukup kuat untuk menjaga stabilitas.
CEO Pinnacle Investama, Guntur Putra, juga menyoroti bahwa likuiditas di pasar tetap cukup berkat dukungan institusi domestik, walaupun ia mengingatkan bahwa kompetisi ketat dengan Surat Utang Negara (SUN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bisa meningkatkan biaya pendanaan bagi korporasi.
Head of Business Development Henan Putihrai Asset Management, Reza Fahmi, menekankan pentingnya sinergi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pendanaan negara dan sektor riil, guna mencegah efek crowding out.
Sementara itu, dari sisi korporasi, perusahaan BUMN karya seperti PT Wijaya Karya (WIKA) melalui Sekretaris Perusahaan Mahendra Vijaya dan PT Adhi Karya (ADHI) melalui Rozi Sparta tetap optimistis melakukan refinancing dan ekspansi dengan memanfaatkan peluang pasar surat utang, meskipun dihadapkan pada tantangan volatilitas ekonomi dan persaingan likuiditas.
Fenomena ini juga tercermin dari perilaku investor ritel seperti Matthew (18 tahun) yang memilih berinvestasi di emas fisik untuk menjaga nilai asetnya di tengah ketidakpastian global, menambah bukti bahwa aset-aset berbasis yield dan safe haven kini lebih menarik perhatian.
Keseluruhan dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun tantangan global membayangi, korporasi Indonesia masih memandang prospek jangka panjang secara positif, dengan strategi pendanaan yang lebih hati-hati dan adaptif terhadap perubahan lanskap keuangan global.
Korporasi Beri Sinyal Positif Terhadap Pasar Modal
Peluang Ditengah Turbulensi Pasar Saham
Tetap Tenang Meski IHSG Naik dan Turun
Mengokohkan Pasar Saham dan Memperbesar Kekuatan Investor Domestik
Kemampuan investor dalam negeri menjaga keberlangsungan pasar saham tengah diuji oleh gejolak ekonomi dan politik global. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mendorong partisipasi investor domestik dan menjaga stabilitas ekonomi demi menopang kinerja pasar modal. Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, dalam diskusi daring bertajuk ”Trump Trade War: Menyelamatkan Pasar Modal, Menyehatkan Ekonomi Indonesia”, Jumat (11/4) menyebut, pasar saham Indonesia telah ditinggalkan banyak investor asing yang mayoritas institusi setidaknya sejak awal 2025. Hingga Kamis (10/4), investor asing telah melakukan penjualan bersih saham senilai Rp 35 triliun, hampir setengahnya dilakukan di Februari 2025. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 11 % dengan posisi akhir di kisaran 6.200.
Kebijakan perang dagang Presiden AS, Donald Trump, yang dilantik 20 Januari lalu, menjadi katalis besar anjloknya pasar saham RI. Pada hari itu, investor domestic membeli kembali saham yang dijual, dengan pembelian bersih sekitar Rp 3,9 triliun oleh investor ritel domestik dan sekitar Rp 1 triliun oleh investor institusi dalam negeri. ”Jadi, kita bisa lihat bahwa ternyata likuiditas, penopang utama pada 8 April, ketika hari pertama perdagangan setelah Idul Fitri itu adalah investor ritel domestik,” ungkap Iman. Kemampuan investor dalam negeri membeli saham juga terlihat pada Kamis (10/4), di mana investor institusi domestik melakukan pembelian bersih senilai Rp 1,75 triliun. Sementara aksi jual beli investor asing berkurang menjadi Rp 750 miliar sehingga IHSG terpompa naik 5 %. Dalam kondisi ini, investor domestik ritel banyak yang mengambil untung sehingga ada penjualan bersih sebesar Rp 1,56 triliun.
Meningkatnya kepercayaan investor domestik, bukan hanya karena harga saham sudah lebih rendah dari nilai kinerja perusahaannya (undervalued), tetapi juga karena kebijakan responsif yang dibuat BEI dan OJK seperti relaksasi pembelian kembali saham atau buyback oleh perusahaan untuk menahan penjualan saham oleh publik, yang diberlakukan 18 Maret 2025. Untuk mencegah kepanikan pasar, ada aturan mengenai penghentian perdagangan sementara (trading halt) menjadi 8 % hingga penyesuaian batas auto rejection bawah (ARB) 15 % untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan pasar dan efisiensi serta likuiditas pasar. Untuk jangka panjang, otoritas bursa juga menyiapkan strategi diversifikasi produk, seperti Single Stock Future, ETF, hingga ETF Gold untuk mengurangi ketergantungan terhadap saham konvensional. (Yoga)
Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan
Investor Beralih ke Cash, Saham Mulai Mengecewakan
Stimulus Ekonomi Jadi Harapan Investor
Saham Masih Atraktif, Saatnya untuk Cicil Beli
Anjloknya Pasar Saham dan Rupiah di Perdagangan Perdana Pasca-Lebaran
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 7,9 % ke level 5.996,14 pada perdagangan perdana pasca libur panjang, Selasa (8/4) seiring tekanan sentimen global yang menggoyahkan kepercayaan investor asing. Di sisi lain, langkah intervensi agresif BI belum cukup meredam gejolak di pasar valuta asing. Pelemahan IHSG sejalan dengan harga saham di seluruh sektor yang bergerak di zona merah. Saham dari perusahaan di sektor material dasar mengalami pelemahan terdalam sebesar 10,54 %, menyusul sektor teknologi yang minus 10,23 % dan sektor konsumsi siklikal yang minus 8,82 %. Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan seusai libur panjang Lebaran, Selasa pagi, IHSG langsung jeblok hingga 9,12 % dari level 6.510,62 ke level 5.912.
Faktor kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump yang mendunia masih menjadi pemberat IHSG. Head Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi berpandangan bahwa tekanan yang masih cukup kuat mendorong IHSG stagnan di zona negatif dan gagal bertahan di atas level psikologis 6.000 pada penutupan perdagangan. Investor asing pada Selasa tercatat melakukan penjualan saham Rp 3,87 triliun. Di satu sisi, pergerakan IHSG relatif stagnan disebabkan perubahan kebijakan oleh BEI, berupa perubahan batas persentase penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB) menjadi 15 % dari sebelumnya 35 %. ”Sementara itu, kami melihat pasar juga belum sepenuhnya merespons positif seiring penyampaian sikap pernyataan pemerintah terkait tarif AS karena panic selling yang masih tinggi,” ujarnya.
Tekanan tersebut masih akan berlangsung dalam jangka waktu pendek dan menengah. Tekanan itu akan berkurang jika ada intervensi dari BI untuk menguatkan nilai tukar rupiah, strategi dan implementasi kebijakan pemerintah yang propasar, termasuk relaksasi suku bunga, serta rilis kinerja perusahaan di bursa yang masih resilien. Langkah intervensi secara agresif yang ditempuh BI belum cukup mampu meredam gejolak saat pasar valuta asing (valas) kembali dibuka pada Selasa. Nilai tukar rupiah dalam perdagangan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pun ditutup Rp 16.849 per dollar AS atau melemah 1,7 % dibanding perdagangan 27 Maret 2025. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
Tren Thrifting Matikan Industri TPT
13 Mar 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023








