Pasar Modal
( 326 )Juni Rawan Koreksi IHSG, Investor Waspada
Bursa Akan Diramaikan Perusahaan Mercusuar
Setelah tiga perusahaan beraset besar tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada triwulan I-2025, dua perusahaan lain bersiap melakukan penawaran umum perdana atau IPO. Di tengah tantangan kondisi makroekonomi, evaluasi terhadap regulasi yang ada dapat menjadi solusi untuk mendorong lebih banyak perusahaan melantai di bursa. Selama Januari hingga Mei 2025, tiga perusahaan mercusuar (lighthouse) baru yang tercatat di bursa adalah PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK), dan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI).
Perusahaan mercusuar adalah perusahaan yang berkapitalisasi pasar di atas Rp 3 triliun, dengan persentase jumlah saham publik atau free float saham minimum 15 %. BEI menargetkan lima perusahaan mercusuar menawarkan saham untuk pertama kali pada 2025. Artinya, ada dua perusahaan mercusuar baru yang segera hadir di pasar saham RI. Pengamat pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, Senin (19/5) memproyeksikan perusahaan-perusahaan yang akan IPO sepanjang 2025 memiliki kualitas yang lebih baik dari tahun sebelumnya. ”Hal ini karena beberapa tergolong sebagai emiten lighthouse dan dapat memberikan benchmark untuk perusahaan yang akan IPO ke depan,” ujarnya.
Pada 2024, dua perusahaan mercusuar melantai di bursa. Pertama, korporasi bagian Grup Bakrie, yakni PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII). Tercatat pada 2 Juli 2024, perusahaan ini memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp 4,3 triliun. Kedua, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO), dengan kapitalisasi pasar Rp 54 triliun. Adanya emiten mercusuar yang melakukan IPO, khususnya di sektor yang sedang diminati, akan meningkatkan kualitas perusahaan-perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya di BEI. Imbasnya, minat investor institusi asing ataupun domestik untuk berinvestasi di bursa saham Indonesia juga akan meningkat. (Yoga)
Investor Asing Jadi Incaran Baru Pasar RI
Kembalinya investor asing ke pasar saham Indonesia menjadi angin segar di tengah kelesuan sejak awal tahun. Aksi net buy besar-besaran, yang dipicu oleh meredanya tensi dagang global dan kondisi valuasi yang menarik, menunjukkan adanya optimisme baru. Tokoh-tokoh penting seperti Felix Darmawan (Panin Sekuritas), Ekky Topan (Infovesta Kapital Advisori), Reza Fahmi Riawan (Henan Putihrai Asset Management), Adrian Joezer (Mandiri Sekuritas), Erindra Krisnawan (BRI Danareksa Sekuritas), dan Inarno Djajadi (OJK) menyoroti bahwa keberlanjutan tren ini sangat tergantung pada stabilitas makroekonomi domestik, kebijakan fiskal dan moneter yang prudent, serta penguatan fundamental emiten.
Meskipun indeks IHSG kembali menembus level 7.000 dan menunjukkan potensi pertumbuhan hingga akhir tahun, tantangan seperti inflasi yang meningkat, pertumbuhan ekonomi yang melambat, dan ketidakpastian kebijakan fiskal tetap menjadi risiko. Para analis mengingatkan bahwa arus dana asing saat ini cenderung bersifat jangka pendek (hot money), sehingga pemerintah dan regulator perlu mengambil langkah strategis, seperti perbaikan kebijakan ekonomi dan peningkatan likuiditas melalui peran liquidity provider seperti Danantara, untuk menjaga keberlanjutan minat investor asing.
IHSG Berpotensi Menguat
Tembus 7.000 IHSG Kembali Masuki Tren Bullish
Indeks Komposit Berada di Jalur Positif
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menembus level psikologis 7.000 pada Kamis (15/5), didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang memberikan sentimen positif terhadap pasar saham Indonesia. Salah satu pendorong utama adalah kesepakatan sementara tarif dagang antara Amerika Serikat dan China, yang menetapkan tarif resiprokal sebesar 115% selama 90 hari. Hal ini memberi sinyal positif kepada pasar global, termasuk Wall Street yang mengalami reli signifikan, dan berdampak menular ke bursa saham Asia, termasuk Indonesia.
Di dalam negeri, penguatan IHSG dipimpin oleh saham-saham Bank BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Bank Tabungan Negara (BBTN), yang dalam dua hari terakhir mencatat kenaikan signifikan. Menurut analis, valuasi saham-saham ini masih tergolong murah, dan menjadi incaran investor institusi.
Salah satu sentimen positif utama datang dari potensi aliran dana besar dari dua lembaga keuangan strategis. BPI Danantara, pengelola dividen bank BUMN, diperkirakan akan mengalokasikan dananya ke saham bank BUMN sebagai portofolio jangka panjang. Selain itu, BPJS Ketenagakerjaan berencana menaikkan porsi investasi saham dari 10% menjadi 20%, yang bisa mengalirkan dana hingga Rp25 triliun per tahun ke pasar modal.
Penguatan ini tercermin dari kinerja indeks IDXBUMN20, yang sejak awal tahun 2025 menjadi satu-satunya indeks yang mencatatkan kinerja positif sebesar 3,92%, melampaui IHSG yang masih terkoreksi 0,56%. Hal ini menunjukkan bahwa saham-saham BUMN tengah menjadi primadona investor di tengah dinamika pasar global.
Dana Asing Tak Kunjung Deras Masuk
Penundaan Tarif Impor Bawa Dampak Tak Ringan
Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan China untuk menurunkan tarif impor menciptakan harapan meredanya ketegangan dagang global dan memicu penguatan di pasar saham dunia, termasuk peluang penguatan jangka pendek di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, prospek jangka panjang IHSG masih dibayangi ketidakpastian dan sentimen negatif.
Beberapa tokoh penting dalam artikel ini memberikan pandangan yang bernuansa hati-hati:
Liza Camelia Suryanata, Kepala Riset Kiwoom Sekuritas, menilai kesepakatan ini memang bisa mendorong investor global melirik pasar negara berkembang, tapi realokasi dana bisa saja justru terjadi ke pasar AS dan China, mengingat arus dana asing di Indonesia masih mencatat net sell hingga Rp 54 triliun sejak awal tahun. Liza juga memperingatkan bahwa IHSG berada di level resistance psikologis 6.970–7.000, yang rawan koreksi.
Ezaridho Ibnutama, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas, menyatakan bahwa penguatan IHSG kemungkinan hanya bersifat sementara, karena fundamental ekonomi domestik masih lemah, tercermin dari pertumbuhan PDB kuartal I-2025 yang hanya 4,87% yoy. Ia juga menyoroti krisis likuiditas dan tekanan jual investor asing sebagai hambatan utama.
Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, melihat peluang bahwa investor domestik akan menjadi penopang pasar jika terjadi aksi jual asing, menyusul optimisme dari kesepakatan dagang tersebut.
Meskipun ada sinyal positif dari luar negeri, pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan besar dari sisi arus modal dan kondisi ekonomi dalam negeri, sehingga penguatan IHSG diperkirakan bersifat terbatas dan rentan koreksi dalam waktu dekat.
Lonjakan Likuiditas Bisa Panaskan Harga Saham
Untuk meredam tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis dengan membuka pendaftaran bagi anggota bursa yang ingin menjadi liquidity provider (LP). Menurut Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI, sejauh ini sudah ada sembilan anggota bursa yang siap menjadi LP, termasuk lima dari luar negeri.
Kehadiran LP, yakni institusi yang menyediakan likuiditas dengan memperdagangkan saham-saham tertentu secara aktif, diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan volume transaksi saham, khususnya saham-saham dengan likuiditas rendah seperti BDMN, BYAN, dan IMAS. Namun, peran LP ini tetap terbatas, tidak mencakup seluruh saham di pasar modal, melainkan hanya yang memenuhi kriteria tertentu.
Meski kebijakan ini mendapat dukungan sebagai langkah jangka pendek untuk menjaga likuiditas, sejumlah pengamat mengingatkan risiko yang muncul. Teguh Hidayat, Direktur Avere Investama, menyatakan bahwa LP dapat membuat harga saham bergerak tidak alami dan tidak mencerminkan fundamental emiten. Menurutnya, dominasi LP bisa menjadikan pasar seperti "mainan bandar" dan kurang berpihak pada investor ritel.
Sejalan dengan itu, Budi Frensidy, pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, menilai kebijakan ini bisa membuka ruang manipulasi harga oleh pihak-pihak tertentu. Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa kehadiran LP bisa menimbulkan tiga risiko: distorsi harga, ketergantungan pasar pada LP, dan kegagalan LP berfungsi optimal pada emiten dengan free float rendah dan potensi konflik kepentingan dengan pemegang saham pengendali.
Meskipun langkah BEI menunjukan upaya aktif untuk meningkatkan likuiditas dan stabilitas IHSG, implementasi liquidity provider harus diawasi ketat agar tidak menimbulkan distorsi harga dan mengabaikan kepentingan investor ritel.
Emas dan Bitcoin Masuki Fase Volatilitas Tinggi
Keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk menahan suku bunga acuan di level 4,25%–4,50% berdampak signifikan terhadap pergerakan komoditas emas dan aset kripto. Dalam pernyataannya, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa kebijakan moneter harus tetap fleksibel dan The Fed belum terburu-buru untuk menurunkan suku bunga, meskipun ketidakpastian akibat perang dagang dan kebijakan tarif Presiden Donald Trump terus membayangi. Powell juga memperingatkan bahwa risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan tetap menjadi perhatian utama.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai seperti emas, yang sempat mencetak rekor di atas US$3.500 per ons meskipun kembali terkoreksi. Sementara itu, Bitcoin menunjukkan tren penguatan, sempat menyentuh US$99.000, dan diprediksi bisa kembali menembus level psikologis US$100.000, didukung oleh spekulasi pelonggaran regulasi di bawah kepemimpinan Trump yang dikenal pro-kripto. Namun, volatilitas pasar masih tinggi akibat ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan geopolitik AS.
Menurut analis kripto Fahmi Almuttaqin, sentimen pasar kripto tetap positif pasca pertemuan The Fed karena tidak ada sinyal negatif yang mengkhawatirkan. Kinerja pasar saham AS juga ikut terdorong, terutama sektor teknologi, setelah adanya sinyal bahwa Presiden Trump mempertimbangkan pelonggaran pembatasan ekspor chip AI, dan indeks-indeks utama seperti Dow Jones dan Nasdaq ditutup menguat.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









