Restitusi Pajak Membengkak di Awal Tahun
Emiten Batubara Masih Tertekan
Investor Asing Masih Lanjutkan Aksi Jual Saham Bank
Tanggulangi Kemiskinan dengan Zakat
Zakat, infak,dan sedekah (ZIS) dinilai tidak hanya sebagai pranata keagamaan namun juga pranata sosial-ekonomi yang efektif untuk penanggulangan kemiskinan dan mendorong perubahan sosial. Era 2000-an telah menjadi saksi transformasi zakat nasional dari ranah karitas ke ranah pemberdayaan, yang didorong oleh pengelolaan zakat secara kolektif, transparan,dan profesional oleh masyarakat sipil, maupun lembaga amil zakat (LAZ), meningkat dari Rp 4 triliun pada 2015 menjadi Rp 40 triliun pada 2024. penghimpunan zakat oleh lembaga amil zakat resmi masih jauh dari potensinya. Berdasarkan data Kemenag, potensi zakat nasional per tahun di Indonesia Rp 327 triliun. Sedangkan data Baznas menyebutkan, total pengumpulan ZIS pada 2023 mencapai Rp 32,3 triliun, naik 43,6% dari 2022 di Rp 22,5 triliun. Sedangkan pada 2021, pengumpulan ZIS baru Rp14,1 triliun.
Baznas dalam Laporan Pengelolaan Zakat Nasional Tengah Tahun 2024 menyebutkan, jumlah pengumpulan nasional semester I-2024 baik dari pengelola zakat maupun pengumpulan off balance sheet mencapai Rp26,1 triliun. Sedangkan jumlah mustahik penerima pendistribusian dan pendayagunaan sebanyak 37,448,724 mustahik, naik 34,92%. Pengamat gerakan zakat dari UI yang juga Direktur Next Policy, Yusuf Wibisono berpendapat, penghimpunan zakat yang lebih maksimal akan membuat pengelolaan zakat bisa memberi dampak sosial maupun ekonomi yang jauh lebih besar. “Zakat nasional yang diinisiasi dan dikelola masyarakat sipil berperan penting dalam memfasilitasi zakat sebagai gerakan sosial-ekonomi yang independen dan mengizinkan perbaikan kesejahteraan umat tanpa bergantung pada intervensi negara," ujar Yusuf, Sabtu (15/03). (Yetede)
Masih Tingginya Volatilitas Pasar Saham
Volatilitas pasar saham diperkirakan cukup tinggi pada pekan ini. Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bergerak dalam rentang lebar di kisaran 6.370-6.630. "Pasar modal Indonesia tengah menghadapí periode volatilitas tinggi, setelah IHSG mengalami koreksi signifikan sebesar 1,98% ke level 6.515 pada akhir pekan lalu. Sejumlah faktor, baik eksternal maupun domestik, menjadi pemicu utama tekanan jual yang membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi," kata founder Stocknow.id Hendra Wardana, Minggu (16/3/2025). Dari sisi eksternal, pelemahan pasar saham global, khususnya S&P 500 yang telah kehilangan US$ 5,28 triliun dalam tiga minggu terakhir, turut memberikan dampak negatif terhadap pasar Asia, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan The Fed terkait suku bunga semakin memperburuk sentimen investor. "Jika inflasi AS masih tinggi, ekspektasi pemangkasan suku bunga untuk memberi stimulus ekonomi, yang pada gilirannya bisa memperlambat pemulihan pasar saham, yang pada akhirnya berpotensi memperpanjang tekanan di pasar saham," ujar dia. Sementara dari dalam negeri, tekanan fiskal mulai terasa setelah pemerintah mencatat defisit APBN per Februari 2025 sebesar Rp 31,2triliun. Defisit ini dapat membatasi ruang gerak pemerintah. Di sisi lain, investor asing masih terus melakukan aksi jual bersih (netsell). Dalam satu pekan terakhir,net sell asing mencapai Rp1,77triliun. (Yetede)
Momentum Pertumbuhan Dipertahankan Tugu Insurance
Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) merencanakan ekspansi bisnis, pengembangan layanan pelanggan, dan transforma-si digital pada tahun ini. Langkah strategis ini diharapkan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan kinerjanya. Tugu Insurance secara agresif melakukan berbagai strategi jitu. Manajemen Tugu Insurance berkomitmen mengelola risiko dengan tepat, mengoptimalkan kerja sama dengan mitra bisnis diberbagai sektor andalan, dan melakukan penetrasi aktif melalui berbagai distribution channel baru. Tujuannya adalah untuk memperluas jangkauan pasar agar perusahaan dapat terus bertumbuh dan menunjukkan kinerja terbaiknya.
Di sisi layanan (services), Tugu Insurance terus memperkuat strategi pemberian layanannya kepada para pelanggan. Berbagai upaya pengembangan SDM untuk meningkatkan kualitas layanan, serta melakukan transformasi digital dengan tujuan dapat memberi kepuasan dan meningkatkan loyalitas pelanggan. Penerapan strategi tersebut menunjukkan tren positif terhadap kinerja emiten asuransi berkode TUGU. “Pertumbuhan ini ditandai dengan laporan keuangan yang positif sejak awal tahun dengan perolehan laba (parent only termasuk unit usaha syariah) Rp 46,02 miliar di Januari 2025. Raihan ini melonjak 363% dari periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Peningkatan laba tersebut belum termasuk laba anak usaha inti, yang ditopang oleh pendapatan top line," tulis manajemen Tugu Insurance, akhir pekan lalu. (Yetede)
Menyempitnya Surplus Neraca Perdagangan
Surplus neraca perdagangan diperkirakan berlanjut Februari 2025, namun menyusut dibanding bulan sebelumnya, karena harga komoditas sedang mengalami moderasi yang mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Berdasar data BPS, neraca perdagangan surplus US$3,45 miliar pada Januari 2025. BPS akan mengumumkan kinerja neraca perdagangan Februari 2025 pada hari ini, Senin (17/3/2025). Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang memprediksi surplus neraca perdagangan akan menurun menjadi US$ 3,16 miliar, ditopang oleh ekspor yang tumbuh 9,1% secara tahunan (year on year/yoy), terutama dari komoditas minyak kelapa sawit dan batu bara, yang masíh mendapat dukungan harga cukup kuat di pasar global. Impor diperkirakan kontraksi 3,2% (yoy), seiring efisiensi anggaran pemerintah, perlambatan proyek infrastruktur, serta pelemahan harga minyak dunia yang mengurangi beban impor energi.
"Neraca perdagangan diperkirakan tetap surplus US$ 3,16 miliar pada Februari 2025. Hal ini menunjukkan ketahanan perdagangan Indonesia di tengah dinamika ekonomi global,” jelas Hosianna, Minggu (16/7/2025). Dia menilai laju ekspor Indonesia masih cukup tangguh meskipun sedang berhadapan dengan ketidakpastian global. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memperkirakan surplus neraca perdagangan pada Febru-ari 2025 akan menyempit, didorong stabilisasi harga komoditas dan perlambatan ekonomi China. Ekspor pada Februari 2025 diperkirakan mengalami kontraksi secara bulanan, namun tetap bertahan. (Yetede)
Keberlangsungan Fiskal menghadapi Beban Berat
Tren penurunan penerimaan pajak awal tahun ini dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi kelangsungan fiskal. Resiko fiskal akan meningkat bila pemerintah tidak segera memperbaiki strategi perpajakan dan pengelolaan belanja. Di sisi lain, mengandalkan utang untuk menutup defisit hanya akan menambah beban di masa depan. APBN mencatatkan defisit pada dua bulanpertama tahun 2025. Sebelumnya, defisit di awal tahun terjadi pada 2021, setelah itu kinerja APBN selalu dimulai dengan tren surplus pada awal tahun. "Kinerja APBN pada dua bulan pertama di tahun 2022, 2023, dan 2024 justru mengalami surplus. Kondisi defisit saat baru 2 bulan, tahun ini jelas bukan pertanda baik bagi kondisi fiskal." jelas ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, Minggu (16/3/2025).
Kondisi defisit ini disebabkan oleh kondisi pendapatan negara yang jeblok hingga 20,85% pada akhir Februari 2025. Kemenkeu melaporkan, APBN 2025 mengalami defisit sebesar Rp 31,2 triliun per 28 Februari 2025 atau 0,13% dari Produk Domestik Bruto (PDB), karena pendapatan negara Rp 316,9 triliun dan belanja negara Rp 348,1 triliun. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2025 sebesar Rp 616,2 triliun atau 2,53% dari PDB. "Ini menjadi peringatan, karena kondisi setahunnya akan cukup berat. Dengan demikian, upaya mencegah defisit tidak melebar akan lebeih mengendalikan pengendalian belanja,” terang Awali. (Yetede)
Target Keberlanjutan 2030 Yakin dicapai Asian Agri dan Apical
Asian Agri dan Apical optimistis mencapai 100% target keberlanjutan di 2030. Guna mewujudkan target tersebut, Asian Agri melalui Asian Agri 2030 di antaranya menyertifikasi semua petani mitra dengan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di 2025. Sedangkan Apical lewat Apical 2030, mendorong para petani memiliki pendapatan alternatif, seperti budi daya madu Trigona di Aceh Singkil dan kakao di Kutai Timur. Johan Kurniawan, Director of Corporate Affairs RGE Palm Business, mempertegas komitmen keberlanjutan Asian Agri dan Apical selaras dengan pedoman pada Pembangunan Berkelanjutan PBB (UNSDGs) yang diimplementasikan dengan berpegang pada filosofi usaha RGE. Filosofi RGE adalah SCs, yakni Good for Community, Country, Climate, Customer, dan Company.
Melalui Asian Agri 2030 dan Apical 2030, kedua perusahaan itu berkomitmen untuk berkontribusi positif terhadap iklim, lingkungan,dan masyarakat, sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan," ungkap Johan saat bukapuasa bersama dan temu media di Jakarta, Jumat (14/03/2025) dalam rangka pemaparan perkembangan komitmen berkelanjutan kedua perusahaan yakni Asian Agri 2030 dan Apical 2030 setelah diluncurkan di 2022. Johan menyampaikan, nilai strategis komoditas sawit merupakan elemen kunci perekonomian nasional, mulai dari kontribusi devisa hingga penyedia lapangan kerja. Keberadaan industri sawit merupakan bagian integral upaya peningkatan kesejahteraan petani rakyat khususnya yang tergabung dalam program kemitraan dan intiplasma. (Yetede)
Pemerintah Terus Mengawal HPP Gabah
Mentan, Andi Amran Sulaiman menegaskan, pemerintah terus berupaya menjaga keseimbangan harga gabah di tingkat petani agar mereka mendapat keuntungan layak, dengan menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) di petani dan meningkatkan penyerapan gabah oleh Perum Bulog guna mencegah anjloknya harga saat musim panen. "Petani kita bahagia di musim panen sekarang, ini kebahagiaan pemerintah khususnya Bapak Presiden Prabowo, mudah-mudahan berlanjut terus. Dan harga ini dikawal sampai tingkat bawah, terima kasih kepada Bulog sudah mengawal sampai kebawah," ungkap Mentan saat panen dan serap gabah di Gresik, Jatim pada 14 Maret 2025.
"Alhamdulillah kita senang mendengar suara petani yang berterima kasihsetinggi-tingginya kepada Ba-pak Presiden, pupuknya sudahterpenuhi, harganya kita lihat langsung Rp 6.500 per kg. Itu akan mengangkat ekonomi mereka, kesejahteraan petani kita," jelas Mentan. Pemerintah akan terus mengawal pemenuhan kebutuhan petani, mulai dari pupuk, benih, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga berbagai kebutuhan lainnya. Dengan dukungan sarana dan prasarana pertanian tersebut, diharapkan dapat mendongkrak produksi padi nasional. (Yetede)









