Ekonomi
( 40733 )Bahlil: Investasi Besar dari 3 Negara akan Masuk pada Kuarta IV
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, Indonesia akan segera menerima penanaman modal asing dari Amerika Serikat (AS), Australia, dan Korea Selatan (Korsel) pada tahun ini. Investasi dengan nilai yang besar ini bakal masuk pada kuartal IV-2021. Meski begitu, Bahlil memastikan bahwa nilai investasi yang akan dibawa ketiga negara tersebut cukup besar dan aliran modal ketiganya akan masuk pada kuartal IV-2021. Dengan demikian, ketiga investasi dari AS, Australia, dan Korea Selatan diharapkan menjadi salah satu katalis untuk mengejar target investasi sepanjang tahun ini yang ditetapkan Rp 900 triliun. Komposisi realisasi investasi sepanjang Januari-Juni 2021 tersebut berasal dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 228,5 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 214,3 triliun.
(Oleh - HR1)
Impor Lima Sektor Industri Sentuh Rp 1080 T
Impor lima sektor industri mencapai
Rp 1.080 triliun pada 2020. Kelima industri itu
adalah industri mesin senilai Rp 308 triliun, industri
kimia Rp 299 triliun, industri logam Rp 242 triliun,
industri elektronik Rp 231 triliun, dan industri
makanan Rp 140 triliun.
Berdasarkan data Core Indonesia,
dari total impor pada 2020 sebesar
Rp 1.427 triliun, sebesar 88% adalah
impor industri pengolahan. Itu sebabnya, pemerintah diminta turun tangan
dengan mempercepat program substitusi impor.
“Penurunan impor manufaktur
bisa dilakukan dengan menghemat
belanja modal dan belanja barang di
empat industri yang memiliki impor
tinggi,” ujar Ekonom Core Indonesia
Ina Primiana, Selasa (27/7).
Maka, langkah Menteri
Koordinator Bidang Kemaritiman dan
Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan
meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim membeli
komputer, laptop, atau tablet buatan
lokal sangat tepat.
“Kebijakan ini sangat ditunggu
oleh industri dalam negeri agar tidak
selalu mengutamakan barang impor
seperti yang selama ini terjadi,” ucap
dia.
Ketiga, dia menerangkan, menjaga
agar industri ensensial bisa tetap produksi dan terus tumbuh dengan protokol kesehatan yang ketat, diawasi,
dan dikomunikasikan kepada polisi
dan Satpol PP, terutama yang sudah
punya izin operasionan dan mobilitas
kegiatan industri (IOMKI). Keempat,
perlu dipikirkan ketersediaan oksigen
memadai untuk industri agar tidak
menganggu rantai pasokan yang
tengah menggeliat. Sebab, saat ini,
oksigen banyak digunakan untuk
keperluan medis.
Kelima, dia menyatakan, memprioritaskan belanja pemerintah pada
industri yang sudah memenuhi
ketentuan tingkat komponen dalam
negeri (TKDN).
(Oleh - HR1)
GoTO Bidik Dana US$ 2 Miliar dari IPO
GoTo, perusahaan hasil
merger Gojek dan Tokopedia, dikabarkan
akan mencatatkan sahamnya (listing) di
Bursa Efek Indonesia dan Amerika Serikat
(AS). GoTo membidik dana US$ 2 miliar
dari penawaran umum perdana (initial
public offering/IPO) saham.
Berdasarkan laporan
Bloomberg, GoTo berencana
mencatatkan sahamnya di
Bursa Efek Indonesia pada
tahun ini. Namun, sebelum
itu, GoTo akan menggalang
dana dari bursa AS terlebih
dahulu. “GoTo sudah memulai proses penggalangan
dana sekitar US$ 1-2 miliar
dengan valuasi sekitar US$
25-30 miliar,” ungkap sumber
yang mengetahui hal itu,
Selasa (27/7).
Sementara itu, perwakilan
dari GoTo menolak berkomentar mengenai kabar
dual listing tersebut. Namun, seorang sumber menyebutkan bahwa perundingan terus berlangsung
dan nilai penggalangan dana
bisa berubah.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) Hoesen pernah mengatakan,
saat ini ada tiga perusahaan
rintisan (start-up) bervaluasi
unicorn dan decacorn yang
akan mencatatkan sahamnya
di BEI. Dia tidak mengungkapkan nama-nama perusahaan
tersebut, tapi hanya menyebut total valuasi aset dari tiga
perusahaan itu di atas US$
21,5 miliar atau sekitar Rp
311,7 triliun.
Sebelumnya, Komisaris
BEI Pandu Sjahrir mengatakan, selain GoTo dan Bukalapak, terdapat dua unicorn
yang berpotensi IPO, yakni
PT Global JET Express (J&T
Express) dan PT Trinusa
Travelindo (Traveloka).
(Oleh - HR1)
Kredit ke Ekonomi Hijau Capai Rp 809,75 T
Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) mencatat realisasi penyaluran kredit
ke sektor ekonomi berorientasi hijau (green
loans) mencapai US$ 55,9 miliar atau setara
Rp 809,75 triliun. Diharapkan penyaluran
tersebut terus meningkat untuk mendukung
implementasi keuangan berkelanjutan.
Ketua Dewan Komisioner
OJK Wimboh Santoso menyampaikan, pandemi Covid-19 yang
terjadi di seluruh belahan dunia
telah memicu krisis ekonomi
yang sifatnya extraordinary.
Namun demikian, pandemi telah
meningkatkan kesadaran akan
pentingnya aspek lingkungan,
sosial, dan tata kelola (ESG)
sehingga investasi berkelanjutan
menjadi lebih diminati.
Stakeholder telah merespons
kebijakan-kebijakan OJK dalam
bidang keuangan berkelanjutan
melalui terbentuknya Inisiatif
Keuangan Berkelanjutan Indonesia, saat ini terdiri atas
13 bank dan PT Sarana Multi
Infrastruktur (SMI), yang telah
siap mendukung implementasi
keuangan berkelanjutan.
“Penyaluran kredit/pembiayaan kepada sektor-sektor
ekonomi berorientasi hijau sebesar lebih dari Rp 800 triliun, yang
diharapkan akan terus berkembang setelah adanya taksonomi
hijau yang sedang disusun,” ucap
Wimboh dalam gelaran ESG
Capital Market Summit 2021
secara daring, Selasa (27/7).
(Oleh - HR1)
Berharap Investasi Naik Lagi
Kinerja investasi langsung terus meningkat di tengah upaya pemerintah menekan kasus positif Covid-19 di dalam negeri. Bahkan, prospek investasi langsung hingga akhir tahun ini diharapkan terus meningkat. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi pada kuartal II-2021 sebesar Rp 223 triliun. Realisasi investasi ini meningkat 16,2% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang hanya Rp 191,9 triliun. Secara terperinci, BKPM menyebut realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 106,2 triliun. Sementara penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 116,8 triliun.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menjelaskan, kinerja positif investasi tersebut sejalan dengan pemulihan ekonomi dalam negeri dan investor makin yakin menanamkan modalnya di Indonesia. "Investor dalam dan luar negeri sudah mulai terbiasa dengan keadaan Covid-19 terhadap kondisi baru dan melakukan penyesuaian," kata Bahlil, Selasa (27/7). Meski demikian, realisasi investasi di kuartal III-2021 akan dipengaruhi oleh efektivitas penanganan pandemi virus korona. Namun ia berharap, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) bisa selesai di bulan Agustus nanti dan kasus harian Covid-19 semakin membaik yang membuat investor semakin yakin untuk masuk.
Di sisi lain, pihaknya tetap berupaya menggenjot investasi. Belum lama ini, Kementerian Investasi mengunjungi Amerika Serikat (AS) untuk menarik investasi. Ia menyebut ada komitmen dari Microsoft, Aplan Lighting, juga Cargill, meskipun tak memperinci investasi apa di Indonesia. "Cargill akan berinvestasi Rp 5,2 triliun. Mereka akan ground breaking pada Oktober tahun ini." tambah Bahlil.Bukalapak Cetak Rekor Emisi IPO Terbesar
Proses penawaran saham perdana Bukalapak bakal segera memasuki tahapan baru. Perusahaan e-commerce tersebut akan mulai menggelar penawaran umum saham perdananya. Dimulainya masa penawaran IPO Bukalapak sekaligus mengukuhkan initial public offering (IPO) dengan nilai terbesar dalam sejarah bursa saham lokal. "Bukalapak menawarkan 25,76 miliar saham pada harga penawaran Rp 850 per saham," tulis manajemen Bukalapak dalam keterangan resmi yang diterima KONTAN, Selasa (27/7). Dengan struktur tersebut, Bukalapak berpotensi meraup dana segar sekitar Rp 21,9 triliun. Rekor IPO terbesar sebelumnya dipegang oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO), yang melepas emisi sebesar Rp 11,2 triliun.
Head of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma menyebut, murah atau mahalnya valuasi saham sejatinya relatif. Sebab, perusahaan seperti Bukalapak lebih menonjolkan rekam jejak pertumbuhan. Meski masih mencatat kerugian, Bukalapak mampu menetapkan harga pelaksanaan di batas atas rentang penawaran. "Artinya, minatnya ada," ujar Suria, Selasa (27.7). Cuma memang, jika valuasi menggunakan basis perbandingan nilai perusahaan dengan penjualan atawa enterprise value to sales (EV/sales enterprise value to sales (EV/sales), valuasi Bukalapak tergolong premium. Tapi jika mengacu pada total processing value (TPV), valuasi Bukalapak belum premium. "Karena jika menggunakan TPV dan dibandingkan dengan peers di luar negeri, ini masih wajar," terang Suria.Pengawasan Produk Kesehatan, E-commerce Waspada
Platform perdagangan digital (e-commerce) meningkatkan pengawasannya terhadap harga produk-produk kesehatan kritikal dan strategis yang dibutuhkan selama pandemi Covid-19, termasuk oksigen konsentrat eceran. Konsumen juga diminta aktif melaporkan barang dagangan yang terindikasi melanggar ketentuan harga. Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga mengatakan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). BPOM akan mengirimkan rekomendasi berisi daftar penjual (seller) yang dinilai tidak mengikuti aturan.
Sejauh ini oksigen konsentrat belum menjadi barang yang ditentukan harga eceran tertingginya oleh pemerintah. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam laporannya menyebutkan bahwa oksigen menjadi salah satu produk yang mengalami lonjakan harga tinggi selama merebaknya kasus Covid-19.Dari hasil pemantauan terhadap beberapa toko di lokapasar, terdapat 11 toko di Jakarta yang menjual oksigen portable merek Oxycan 500cc di rentang harga Rp58.000—Rp 450.000 dengan harga rata-rata Rp 275.000. Per kemarin, produk serupa dijual di rentang harga Rp65.000—Rp180.000 per kaleng di beberapa lokapasar. AVP Marketplace Quality Bukalapak Baskara Aditama mengatakan perusahaan secara rutin melakukan pengawasan terhadap produk kesehatan, termasuk bekerja sama dengan Polri, Kementerian Kesehatan, dan BPOM.
(Oleh - HR1)Prospek Properti Semester II/2021, Segmen Rumah Tapak Jadi Primadona
Para pengembang dan konsultan properti meyakini subsektor rumah tapak dapat bertahan dan masih memiliki prospek yang bagus pada semester II/2021.Direktur Sales & Marketing Paramount Land M. Nawawi mengatakan kondisi sektor rumah tapak pada semester II/2021 akan mengalami koreksi penjualan akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada Juli. Namun, rumah tapak masih memiliki prospek yang lebih baik dibandingkan dengan sub-sektor properti lainnya. “Kalau sudah selesai [PPKM], akan kembali meningkat lagi penjualan properti,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (27/7).
Hanya saja, butuh waktu 2-3 bulan sejak selesainya PPKM bagi konsumen dalam mengumpulkan keberanian untuk membeli rumah dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangannya.“Saat ini, kondisinya seperti di-restart ulang. Di kuartal III tahun lalu, kami juga mencoba naik lagi setelah PSBB di awal. Dengan berbagai macam promosi dan tentu stimulus pemerintah, membuat properti sangat tumbuh di semester I/2021,” katanya.
(Oleh - HR1)
Tambahan Vaksin Sinovac
Di tengah isu internasional menyoal efikasi vaksin Sinovac, pemerintah Indonesia kembali mendatangkan bahan baku Sinovac sebanyak 21,2 juta dosis, Selasa kemarin (27/7). Langkah ini sebagai upaya persiapan pasokan program vaksinasi bulan depan. Selain Sinovac, pemerintah juga terus berupaya mengimpor vaksin jadi dari produsen lain melalui berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri.
Belum lama berselang, Indonesia sudah mendapatkan 3 juta dosis vaksin Moderna dari pemerintah Amerika Serikat. "Pemerintah memastikan keamanan, kualitas dan khasiat atau efikasi untuk seluruh jenis vaksin yang diperoleh," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers, Selasa (27/7). Tambahan pasokan vaksin penting. Sebab, Indonesia membutuhkan 208 juta orang yang divaksin untuk mencapai ketahanan komunal atau herd immunity. Sejauh ini, Indonesia sudah mendatangkan vaksin korona sebanyak 122,73 juta dosis dalam bentuk jadi dan bahan baku.
Kinerja Bank Daerah, Kredit BPD Moncer
Beberapa bank pembangunan daerah mencatat pertumbuhan kredit signifikan, di tengah kondisi perekonomian nasional yang belum pulih akibat terdampak pandemi Covid-19.
Lonjakan kredit beberapa bank pembangunan daerah (BPD) itu secara langsung mendongkrak perolehan laba perseroan pada semester I/2021.Saat ini, ada lima BPD yang merilis kinerja keuangannya. Salah satunya, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (Bank BJB) yang membukukan pertumbuhan laba 14,42% year-on-year (YoY) menjadi Rp924,42 miliar per 30 Juni 2021.Sektor kredit merupakan ujung tombak perseroan dalam mendongkrak pendapatan. Kredit bank tercatat tumbuh 6,7% YoY menjadi Rp91,25 triliun.Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi mengatakan perseroan sebenarnya mampu mencatatkan pertumbuhan kredit sekitar 7,3% - 7,4% pada akhir Juni 2021. Namun, dia menyatakan kredit hanya tumbuh 6,7% karena ada pelunasan satu debitur besar senilai Rp1 triliun pada akhir bulan lalu.
Selain Bank BJB, BPD lain juga mencatatkan pertumbuhan kredit yang melampaui rata-rata industri seperti Bank Nagari yang tumbuh 7,02%, diikuti Bank Lampung sebesar 5,80%, Bank Sulutgo sebesar 3,76%, dan Bank Sumut 2,97% YoY.Berdasarkan data Bank Indonesia, kredit yang disalurkan perbankan pada Juni 2021 tumbuh 0,4% YoY, berbalik arah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang -1,3% yoy.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









