Kami Belum Dapat Subsidi Pemerintah
PALEMBANG, TRIBUN - Sejumlah pengrajin tempe di Lorong Perguruan, Kecamatan plaju, Palembang, sampai saat ini belum mendapatkan bantuan subsidi kedelai dari pemerintah. Mereka mengeluhkan harga kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe kian hari terus mengalami kenaikan dan belum ada perhatian dari pemerintah. Sebelumnya, awal Juni lalu, Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian memberikan subsidi biaya distribusi kedelai dari produsen ke wilayah perajin tahu dan tempe untuk membantu meringankan biaya produksi saat harga komoditas kedelai yang meningkat beberapa waktu terakhir.
Kepala BKP Agung Hendriadi dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta mengatakan upaya ini merupakan bagian dari strategi menekan kenaikan harga kedelai di tingkat perajin agar harga tempe dan tahu tetap terjangkau oleh masyarakat. Kenaikan harga kedelai yang masih terjadi hingga sekarang disebut sempat membuat produsen tahu tempe kelimpungan. Kenaikan harga kedelai tersebut akan berdampak pada biaya produksi yang pada akhirnya kenaikan harga di tingkat konsumen tidak bisa dihindari. Namun hingga kini, kebijakan tersebut sepertinya belum sampai di provinsi Sumsel. Karena hingga kemarin, pengrajin tempe belum mendapat bantuan apa-apa.
Indah, salah satu pemilik industri tempe rumahan di Palembang, sebenarnya sangat mengharapkan adanya subsidi kedelai dari pemerintah khususnya bagi para pengrajin tempe. "Belum ada subsidi pembelian kedelai dari pemerintah sampai sekarang ini, malahan harga kacang kedelai untuk bahan baku naik terus dulu cuman Rp 8000 per kg lalu naik jadi Rp 15.000 dan baru-baru ini malahan naik lagi jadi Rp 17.000 per kg. Lama-lama kami pengarajin tempe tidak bisa bertahan lagi," keluh Indah, Selasa (29/6/2021). Indah melanjutkan, kenaikan harga bahan baku yang sangat tinggi membuatnya harus mengurangi jumlah pembelian kedelai untuk produksi tempe di tempatnya. "Karena harga bahan baku kami semakin tinggi sekarang, jadi di sini kami mengurangi pembelian kedelai untuk produksi tempe, dulunya bisa beli 50 sampai 70 kilo, sekarang hanya bisa beli sedikit sekitar 30 kg untuk produksi," bebernya. Indah menyebut kenaikan harga kedelai saat ini diakibatkan pemerintah terus mengekspor bahan baku kedelai produksi dalam negeri. "Harga bahan baku kedelai akan terus naik karena pemerintah terus mengekspor kedelai keluar negeri mangkanya kedelai di sini langka jadi harganya mahal," kata Indah mencoba menganalisa masalah.
Hal senada juga dirasakan Olik, pekerja kawasan industri tempe rumahan lainnya. Dia mengatakan belum mendapat bantuan subsidi kedelai dari pemerintah. "Subsidi kedelai dari pemerintah nggak ada sampe sekarang kalau sudah ada makmur kita gak kesulitan lagi," ujarnya. Olik mengeluhkan jika harga kedelai terus naik terpaksa ia harus memberhentikan produksi tempe di tempatnya. "Sekarang harga kedelai malahan semakin naik jadi Rp 15.000 per kilonya, padahal dulunya cuman Rp 7000 per kilo, kalau terus naik begini terpaksa kami harus stop produksi tempe dulu, kalau dulu enak masih ada koperasi untuk produsen tempe di sini tapi sekarang udah tutup jadi kita sebagai pengrajin tempe semaki sulit". la melanjutkan, agar usahanya tetap bisa bertahan, dirinya harus mengurangi ukuran tempe menjadi lebih kecil. "Saat ini kami hanya bertahan dengan mengurangi timbangan sekitar 9 ons, itu pun kosumen pada protes, kok ukurannya tempenya makin kecil aja, mereka gak tau kalau harga kedelai sekarang naik," ujarnya.
Postingan Terkait
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023