6.000 Pengusaha Warteg Jabodetabek Terancam Bangkrut
Sekitar 6.000 pengusaha
rumah makan warung tegal (warteg)
di Jabodetabek terancam bangkrut.
Mereka mengaku tak kuat lagi menahan gempuran pandemi Covid-19 yang
berimbas terhadap roda perekonomian
di kalangan masyarakat menengah ke
bawah, yang merupakan para pelanggan
warteg.
“Iya, teman-teman terancam gulung
tikar,” ujar Ketua Komunitas Warteg
Nusantara (Kowantara), Mukroni, di
Jakarta, Selasa (26/1).
Dia menjelaskan, beberapa faktor
penyebab pemilik warteg terpaksa
menutup usahanya, antara lain karena
daya beli masyarakat menurun. “Sejak
pemberlakuan PSBB (pembatasan sosial
berskala besar) di Jabodetabek, daya beli
masyarakat menurun. Sementara, kami
harus memperpanjang kontrak sewa
tem pat, kami sudah tidak sanggup lagi,”
bebernya.
Jumlah warteg yang ada di Jakarta
menyebutkan mereka kehilangan omzet
hingga di atas 50% selama masa pandemi
virus corona (Covid-19) karena jumlah
pelanggan yang kian menurun.
Berbagai cara tetap dilakukan para
pedagang warteg agar pelanggan tetap
bertahan dan tidak kabur ke tempat
lain, mulai dari mengurangi harga, tidak
menaikkan harga meski harga bahan
pokok cenderung naik, dan berbagai
trik lainnya.
Hal serupa diungkapkan Hari (45) pedagang Warteg Jaya Sari di Jalan Kedondong Raya Kelurahan Sunter Jaya. Ia menyebutkan jumlah pelanggan yang datang ke tempatnya amat berkurang di masa pandemi. "Biasanya di jam makan siang (11.00- 14.00) itu bisa ada 20-30 pelanggan datang makan, sekarang hanya 10 dan dalam sehari jarang bisa sampai 20 pelanggan saja sudah lumayan," kata Hari.
(Oleh - HR1)
Tags :
#PengusahaPostingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023