Putin : Kekalahan Rusia Bukan Kejatuhan Assad
Kejatuhan Presiden Suriah Bashar al-Assad bukan berarti kekalahan bagi Rusia. Sebaliknya,tujuan utama Rusia datang ke Suriah sekitar 10 tahun lalu telah tercapai. Sejak awal, Rusia berusaha membantu agar Suriah tidak menjadi ”kantong teroris”. Setelah melarikan diri dari Suriah, Assad dan keluarganya mendapatkan perlindungan di Rusia. Selama ini Rusia menjadi pendukung utama Assad dan telah membantu dia sejak 2015. ”Secara keseluruhan, tujuan kami di Suriah sudah tercapai. Bukan tanpa alasan sekarang banyak negara Eropa dan Amerika Serikat ingin menjalin hubungan dengan penguasa baru Suriah. Jika mereka organisasi teroris, mengapa Barat ke sana? Itu berarti, mereka sudah berubah,” kata Putin dalam konferensi pers akhir tahun, Kamis (19/12/2024) di Moskwa. Putin mengatakan, belum bertemu Assad sejak datang ke Moskwa. Namun, dia berencana segera bertemu Assad. Ini pertama kali Putin membahas situasi di Suriah secara terbuka sejak Assad tumbang. Rusia tengah berupaya mempertahankan dua pangkalan militernya di Suriah. Di Jakarta, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Gennadievich Tolchenov, Jumat (20/12), mengatakan, keputusan Pemerintah Rusia memberikan suaka kepada Assad semata-mata alasan kemanusiaan.
Secara politis dan kemanusiaan, kata Tolchenov, itu keputusan yang sangat baik dan benar. Lagi pula, Assad teman Rusia. ”Biarlah sejarah dan orang-orang Suriah menghargai apa yang dilakukan dan tidak dilakukan Assad untuk negaranya. Itu cerita lain. Dia mitra kami. Dia teman negara saya. Jika sesuatu terjadi dengan teman, tidak sepatutnya meninggalkan mereka,” kata Tolchenov kepada wartawan di kediaman Dubes Rusia di Jakarta. Selain soal Suriah, Tolchenov juga membahas perang di Ukraina. Ia mengatakan, Rusia dalam posisi menerima saran atau masukan soal upaya mediasi perundingan perdamaian di Ukraina. Gencatan senjata dan penghentian perang memang penting, bukan hanya di Ukraina, melainkan juga di Gaza, Palestina, dan Lebanon. Hanya, itu bukan prioritas Rusia. Bagi Rusia, lebih penting menangani akar penyebab krisis agar tidak terus berulang. Krisis di Timur Tengah berulang karena akarnya tidak ditangani. Ukraina pun begitu. Menurut Tolchenov, akar masalahnya yang harus diselesaikan. Akarnya adalah Ukraina tidak boleh bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), tidak boleh ada pangkalan militer NATO di wilayah Ukraina, demiliterisasi Ukraina, dan melindungi populasi masyarakat yang berbahasa Rusia di Ukraina. ”Kalau akarnya ini tidak ditangani, krisis akan terjadi berulang-ulang,” ujarnya. (Yoga)
Tags :
#InternasionalPostingan Terkait
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Diplomasi Simbolik RI Dinilai Berisiko
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023