Tantangan Berat Prabowo dalam Meningkatkan Ekonomi
Lengkap sudah beragam indikator yang memperlihatkan bahwa perekonomian Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Tentu saja, ini perlu menjadi perhatian serius pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang akan dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI pada 20 Oktober nanti. Indikator pertama, Purchasing Manager's Index (PMI) Manufaktur Indonesia sudah bertahan di zona kontraksi tiga bulan beruntun tahun ini. Data teranyar pada September 2024, PMI Manufaktur RI tercatat di level 49,2, setelah Agustus 48,9 dan Juli 49,2. Economics Director S&P Global Market Intelligence Paul Smith mengatakan, kinerja sektor manufaktur Indonesia yang mengecewakan terkait kondisi makro ekonomi global yang sedang lesu pada September, dengan penurunan tercepat pada penjualan eksternal dalam waktu hampir dua tahun dari laporan terkini. Sedangkan data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan, kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) naik. Pada September 2024, pekerja yang terkena PHK bertambah 6.753 orang. Alhasil, jumlah pekerja terkena PHK periode Januari hingga 26 September mencapai 52.993 orang. PHK terbesar masih di sektor manufaktur. Indikator kedua, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatatkan deflasi selama lima bulan berturut-turut tahun ini, mendekati krisis 1999 silam, dengan deflasi selama tujuh bulan berturut-turut. Meski BPS dan pemerintah menyangkal deflasi itu akibat pelemahan daya beli.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti bilang, deflasi beruntun akibat penurunan harga, baik dari sisi penawaran maupun pasokan.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, daya beli masyarakat masih kuat. Salah satunya ditandai komponen inti yang masih naik 0,16% mtm.
Ketiga, Indeks Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2024 juga turun. Penurunan pesanan baru terjadi pada subsektor industri pengolahan lain yang mengalami kontraksi karena turunnya pesanan, dari luar negeri dan dalam negeri.
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai, kontraksi manufaktur dan deflasi beruntun jadi indikasi kuat bahwa konsumen maupun produsen pesimistis dengan prospek ekonomi. Alhasil, keduanya defensif dengan mengurangi produksi dan konsumsi.
Ekonom Bright Institute Awalil Rizky juga menilai, perlu kejelasan strategi industrialisasi jangka menengah panjang.
Kepala Ekonom BCA David Sumual lagi-lagi mengimbau pemerintah menciptakan lapangan kerja. Lebih dari 3,5 juta orang butuh lapangan kerja baru per tahun.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani berharap, otoritas fiskal dan moneter menciptakan iklim usaha yang baik.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
PHK Massal Bisa Jadi Efek Domino Perang
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Kemenaker Siaga Hadapi Gelombang PHK
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023