Mencari Pengganti Blok Cepu dan Blok Rokan
Lapangan Banyu Urip, di Blok Cepu, Bojonegoro, Jatim, hingga kini menjadi tulang punggung produksi minyak bumi nasional bersama Blok Rokan, Riau. Keduanya tertatih menahan laju penurunan produksi secara alamiah yang membuat produksi nasional turun. Kementerian ESDM dan SKK Migas mendorong pelaksanaan proyek pengeboran infill di Lapangan Banyu Urip. Secara sederhana, pengeboran infill ialah pengeboran lapisan berbeda pada lapangan yang sama guna menambah produksi. Selain pengeboran infill, juga akan dilakukan pengeboran pada batuan klastik, dengan tujuan sama. Proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) dilakukan Exxon guna mendorong tambahan produksi. Mulai dibor pada Maret 2024, proyek tersebut pada awal Agustus telah memproduksi minyak 13.300 barel (didapat dari Sumur B-13) dari total potensi di dalam reservoir yang 42 juta barel.
Upaya peningkatan produksi, seperti dalam proyek BUIC, adalah bagian dari upaya menekan defisit produksi minyak bumi nasional. Dalam catatannya, tren penurunan produksi membuat Indonesia defisit minyak 600.000 barel per hari. Artinya, defisit minyak tersebut mau tidak mau dipenuhi lewat impor. Lapangan Banyu Urip menjadi perhatian karena merupakan penopang produksi minyak nasional bersama Rokan. Menurut data Kementerian ESDM per 30 Juni 2024, Exxon Mobil Cepu Ltd menjadi perusahaan penyumbang lifting (produksi siap jual) minyak terbesar kedua di Indonesia dengan 143.946 barel per hari. Exxon hanya kalah dari Pertamina Hulu Rokan (PHR), pengelola Blok Rokan, dengan produksi 157.226 barel per hari.
Kebutuhan Indonesia dalam memenuhi kemandirian energi, khususnya minyak bumi, ialah peningkatan lifting, bukan sekadar menahan laju penurunan. Perlu sumber-sumber baru guna meningkatkan lifting minyak secara signifikan. Sementara itu, di Blok Rokan, PHR menerapkan teknologi Advanced Reservoir Management berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam mengevaluasi sumur-sumur di Lapangan Minas. Penerapan AI itu memberikan nilai tambah sebesar Rp 200 miliar, dari evaluasi pada 150 sumur lama, tanpa mengebor sumur baru. SKK Migas pun mendorong ditemukannya the next Rokan dan Banyu Urip. ”Dari eksplorasi (awal) kami melihat ada lima area potensial untuk minyak, yakni di Buton, Seram, Warim, Laut Aru, dan Timor. Sebagai tindak lanjut, kami mengundang pemain-pemain besar untuk mengeksplorasi lebih lanjut di situ,” kata Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. (Yoga)
Postingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023