;

Anak Muda Korsel Memilih Berfoya-foya

Ekonomi Yoga 29 Aug 2024 Kompas
Anak Muda Korsel Memilih Berfoya-foya

Lelah bekerja, anak muda Korsel pilih habiskan penghasilan untuk diri sendiri. Tidak menabung untuk menikah atau keluarga. Apalagi, punya anak butuh biaya besar. Angka kelahiran di Korsel terus terpangkas sejak 1970. Kini, gara-gara YOLO, semakin sedikit anak muda di negara itu mau punya anak. Pada Rabu (28/8) hanya ada 18.242 kelahiran sepanjang Juni 2024, terendah dibanding Juni tahun-tahun seebelumnya. Korsel hanya mencatat angka kelahiran 0,71 bayi per perempuan. Paling rendah sepanjang sejarah. Di Seoul dan kota sekitarnya lebih buruk lagi, cuma 0,55. Penyebabnya dijelaskan dosen sosiologi Seoul Women’s University, Jung Jae-hoon, yaitu anak muda Korsel mau bersenang-senang, yang tak lepas dari nilai hidup generasi Z, hidup cuma sekali atau you only live once (YOLO).

Penganut YOLO yakin kesenangan atau hal menarik harus dilakukan. Konyol dan berbahaya pun tetap dilakukan. Tak perlu banyak berpikir. Karena hidup cuma sekali. Harus dinikmati sepenuhnya. Kejar impian, ambil risiko, dapatkan pengalaman baru. Anak muda memilih keluar dari zona nyaman dan tak keberatan hidup dalam ketidakpastian. Park Yeon (28) contohnya. Mayoritas pengeluarannya untuk makan dan jalan-jalan. Tidak ada tabungan persiapan menikah, apalagi punya anak. ”Tidak cukup uang tersisa untuk ditabung setelah saya melakukan hal-hal yang dapat memberi penghargaan kepada diri sendiri. Ia mau menjadi penyanyi dan mengumpulkan modal dengan berjualan baju dulu. ”Untuk saat ini, menikmati hidup dan mengerjakan pekerjaan impian adalah prioritas saya,” katanya.

Menurut Jung, orang Korsel kelompok umur 20-30 tahun fokus menghabiskan uang, bukan menabung. Bank sentral Korsel mencatat, tabungan di kelompok umur itu turun menjadi 28,5 % pada kuartal I-2024. Sebaliknya, pengeluaran mereka naik 40,1 %. Di kelompok umur lain, tabungan naik dan pengeluaran menurun. Jung menyebut, sibuk belanja di kalangan orang muda dipicu keinginan memburu status dan menikmati hidup. Media sosial mendorong orang muda butuh tampil sukses, dengan penggunaan aneka barang mahal. Banyak orang Korsel berpendapat, hidup bermakna kalau sukses secara material. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :