Dampak Buruk PHK Massal
KEKACAUAN regulasi kembali menjadi petaka bagi sektor industri manufaktur. Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang sudah menimpa puluhan ribu pekerja diperkirakan terus berlanjut jika pemerintah tidak bergerak cepat merombak total pelbagai kebijakan yang menjadi benalu bagi pelaku industri dalam negeri. Salah satunya mengkaji ulang kebijakan pelonggaran impor sejumlah barang. Tanda bahaya datang dari industri garmen dan alas kaki di Jawa Barat serta Jawa Tengah, yang memangkas ratusan pegawainya pada Juni-Juli 2024. Menurut catatan Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara, sejak awal 2024, sudah ada 13.800 pekerja di industri tekstil yang terkena PHK.
Data yang lebih miris disajikan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia Jawa Tengah. Ada 15 ribu buruh yang terkena PHK karena 10 pabrik tutup. Jumlahnya bisa lebih banyak karena tidak semua industri tekstil yang gulung tikar melapor ke asosiasi. Di Jawa Barat, data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan menunjukkan jumlah pegawai yang menjadi korban PHK mencapai 10.120 orang sejak Januari hingga Juni 2024. Bukan hanya soal deretan angka jumlah pengangguran, pelbagai peristiwa PHK juga melahirkan persoalan yang tak kalah mengkhawatirkan, yakni besarnya jumlah orang yang putus asa memperoleh pekerjaan (hopeless of job). Badan Pusat Statistik mencatat jumlah orang berusia 15-29 tahun yang mengalami hopeless of job pada 2024 sebanyak 362.522. Kondisi buruk ini bisa menyebabkan anak muda mengalami frustrasi, putus asa, hingga depresi. (Yetede)
Tags :
#BeritaPostingan Terkait
PHK Massal Bisa Jadi Efek Domino Perang
26 Jun 2025
Ancaman Deindustrialisasi & Nasib Buruh
24 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023