Daya Beli Kelas Menengah Juga Harus Ditingkatkan
Menggenjot daya beli menjadi pekerjaan rumah pemerintah jika ingin roda perekonomian nasional kembali melaju. Tak hanya kelas bawah, tetapi juga memacu daya beli kelas menengah. Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2024 sebesar 5,05% year on year (yoy). Angka ini melambat dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 5,11% yoy. Menurut data BPS, tersendatnya pertumbuhan ekonomi periode April-Juni tahun ini disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) menjadi hanya 9,98% yoy, dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh dua digit mencapai 24,29% yoy. Ini seiring dengan berakhirnya pemilihan presiden. Selain itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah jauh melambat dari 19,90% yoy pada kuartal I menjadi hanya 1,42% yoy. LNPRT dan konsumsi pemerintah memang hanya menyumbang 1,32% dan 7,31% terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi di sepanjang semester I-2024 tercatat 5,08% yoy. Sementara itu, jika pemerintah mau ekonomi tahun ini tumbuh 5% yoy, maka pemerintah harus bisa mengejar pertumbuhan ekonomi 4,92% yoy di paruh kedua tahun ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah akan mengandalkan belanja untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi di sisa akhir tahun.
Bukan hanya itu, pemerintah juga akan mendorong kinerja usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), salah satunya dengan memberikan restrukturisasi kredit kepada pengusaha UMKM. Yang jelas, pemerintah berupaya agar pertumbuhan ekonomi di semester II-2024 di level 5,1%. "Kita nanti di semester kedua ini, yaitu kuartal III dan kuartal IV akan terus melihat faktor-faktor untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi bisa tetap terjaga 5,1% bahkan kalau bisa 5,2%," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi mengatakan, pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat agar tetap tinggi. Menurut dia, deflasi yang terjadi beberapa bulan terakhir menandakan daya beli masyarakat melemah. "Di samping belanja pemerintah yang tepat sasaran, kami mengharapkan daya beli masyarakat dijaga agar tetap tinggi," ujar Chandra kepada KONTAN, Senin (5/8). Meski demikian, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalia mengatakan, skenario terburuk, ekonomi di sepanjang 2024 hanya akan mencapai angka 4,9% yoy sejalan dengan kondisi manufakur yang terkontraksi dan menyebabkan kenaikan angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Ditambah lagi, tren deflasi yang telah terjadi selama tiga bulan berturut-turut.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Pemerintah akan Menjaga Laju Invetasi Asing
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Transaksi Digital Melaju Kencang
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023