;

Industri Manufaktur Melemah

Ekonomi Yoga 06 Aug 2024 Kompas
Industri Manufaktur Melemah

Industri manufaktur Indonesia jeblok dari posisi ekspansi menjadi posisi kontraksi, tercermin dari Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) Indonesia Juli 2024 yang dirilis S&P Global. Dalam laporan itu, PMI manufaktur Indonesia anjlok dari 50,7 per Juni 2024 ke 49,3 per Juli 2024. Indeks di bawah 50 menunjukkan industri tengah terkontraksi. Kontraksi ini merupakan yang pertama, setelah 34 bulan berturut-turut PMI manufaktur Indonesia dalam posisi ekspansi. Beberapa bulan terakhir, industri manufaktur Indonesia sejatinya sudah banyak tertekan. Rilis PMI manufaktur oleh S&P Global ini hanya memperkuat bunyi alarm peringatan yang sejatinya sudah lama berbunyi, tetapi kurang didengar.

Beberapa bulan terakhir sudah banyak PHK di industri padat karya, khususnya tekstil dan produk tekstil (TPT). Berdasarkan data Kemenperin, sejak Januari hingga Juli 2024 diperkirakan sudah terjadi PHK terhadap 11.000 buruh. Pemicu industri tertekan adalah munculnya kebijakan yang justru kontraproduktif dengan pertumbuhan industri dan malah mendukung deindustrialisasi alias pelemahan industri, yaitu Permendag No 8 Tahun 2024 tentang Perubahan Ketiga atas Permendag No 36/2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Aturan itu menghapus pertimbangan teknis Kemenperin saat pelaku usaha ingin mengimpor komoditas tertentu. Dampak langsungnya dirasakan banyak industri domestik, antara lain TPT dan keramik. Banjir barang impor langsung menggempur dan menggerus pasar dalam negeri. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :