Hamzah Reevi Berdaya dengan Buku Anak
Bergelut lama di dunia penerbitan, Hamzah Reevi (37) akhirnya memutuskan berhenti sejenak. Namun, kecintaannya pada literasi dan kehadiran sang anak memantik ide, berlanjut melalui konsep lain. Ia melahirkan buku anak bertema budaya dan kekayaan Indonesia. Di hadapan para orang tua dan anak-anak yang duduk lesehan di taman samping Pos Bloc, Jakarta, Selasa (2/7) Hamzah Reevi bersama anaknya mengangkat sebuah buku serba hitam. Buku cerita anak katanya. ”Coba perhatikan, ada sesuatu yang kelihatan enggak di sampulnya?” tanya Reevi kepada anak-anak di depannya. Sembari mendekat, anak-anak spontan berteriak, ”Ada gambar ayamnya.” Hari itu, Reevi memperkenalkan buku baru yang diluncurkan Little Quokka, penerbit buku anak miliknya.
Buku teranyarnya berjudul Cemani yang Letih. Alih-alih mengangkat fabel dengan hewan yang kerap muncul di buku anak, Reevi memilih cemani yang jelas asing bagi para bocah. Namun, rupanya apa yang ditawarkan menarik minat anak-anak di situ. Mereka penasaran dengan ayam yang seluruh badannya hitam. Sambil bercerita dan membuka bukunya, Reevi menjelaskan mengenai ayam cemani khas Indonesia dan di mana bisa menemukannya. Tak hanya cemani, buku itu juga memperkenalkan hewan khas lain di Indonesia, bahkan yang hampir punah. Ada gajah, tapir, dan orangutan yang hadir di halaman awal dengan fitur seek and find (mencari yang tersembunyi).
Sejak kehadirannya pada 2020, Little Quokka yang dijalankan Reevi seusai mundur dari pekerjaannya fokus pada pengenalan budaya dan kekayaan Indonesia melalui buku anak. Pandemi menjadi momen penting yang melahirkan Little Quokka. Muncul gagasan agar flashcard pengenalan rempah untuk anak ditemani buku. Lahirlah buku pertama terbitan Little Quokka, Willa & Rempah Kesayangan Ibu. Sejumlah buku yang ditulisnya sendiri atau istri, maupun bekerja sama dengan penulis dan illustrator lain berturut diterbitkan setelah itu, antara lain, Mengenal Jajanan Nusantara, Petualangan Kuliner Zoe di Indonesia 1, Petualangan Kuliner Zoe di Indonesia 2, Walau Beda Tetap Soto Jua, Ramuan Ajaib Penyelamat Negeri, Willa & Bumbu Dapur, Ini Pohon Kita, dan Berbeda Itu Tak Apa: Kita Beragam Tak Perlu Jadi Seragam.
Dalam memproduksi konten buku anak dengan tema budaya dan kekayaan Indonesia, riset sangat diperlukan. Dari sekadar kecil-kecilan sampai mencari sumber tepercaya agar informasi yang diberikan kepada anak-anak sesuai. Karenanya, pengerjaan satu buku bisa memakan waktu dua tahun meski kadang dilakukan secara paralel dengan buku lain. Pembiayaan pembuatan buku juga menggunakan modal sendiri. Karena itu, setiap buku yang akan diterbitkan memakai sistem prapemesanan untuk mempermudah penghitungan cetak dan memutar modal. Ia yakin pertumbuhan buku anak saat ini bisa bermanfaat banyak terhadap literasi generasi yang akan datang. Begitu pula dengan konten budaya dan kekayaan lokal yang dikenalkan sejak dini akan memperkuat rasa memiliki sehingga budaya dan kekayaan negeri ini akan selalu lestari. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023