Melepaskan Diri dari Jerat Kecanduan Judi
Sejumlah rumah sakit di Jabodetabek menyediakan klinik psikiatri adiksi yang menangani kecanduan judi. Mereka menerima pasien yang kecanduan judi hingga putus asa, depresi, sampai terpikir bunuh diri. Salah satunya Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit di Jaktim. Pada hari layanan, setidaknya ada satu atau dua penjudi yang datang ke klinik psikiatri adiksi di RS itu. Mereka datang sendiri atau diantar keluarga pelayanan dibuka setiap Selasa, Jumat, dan Sabtu untuk mendapatkan informasi tentang kecanduan judi, rawat jalan, dan rawat inap. Mereka berasal dari Jabodetabek dan luar kota berusia rata-rata 20-56 tahun dengan status mulai dari mahasiswa hingga pejabat.
Salah satu pasien yang dirawat ialah seorang mahasiswa berusia 20 tahun. Saat datang ke klinik, mahasiswa itu dalam kondisi depresi sejak enam bulan lalu. Ia menarik diri dari pergaulan, kehilangan minat terhadap kegiatan sehari-hari, dan putus asa. Bahkan, terpikir untuk bunuh diri. ”Orangtuanya heran, kok, anak saya jadi begitu, ternyata karena judi online. Dari pergaulan, enak dapat uang kaget. Pengin lagi, tetapi kalah melulu sampai uang kuliah dipakai berjudi,” tutur dr Yenny Sinambela, SpKJ (K), konsultan Klinik Psikiatri Adiksi, saat ditemui di Klinik Psikiatri Adiksi di RSKD Duren Sawit, Senin (15/7). Mahasiswa ini menjalani rawat jalan setiap dua minggu.
Jika berhalangan hadir, perawatan dilakukan melalui telekonseling atau konseling jarak jauh. Saat ini, kondisinya lebih baik. Ia mulai beraktivitas seperti biasa. Penjudi lainnya adalah seorang suami berusia 56 tahun. Ia mengenal judi sejak muda. Selain judi konvensional, ia juga berjudi online. ”Istrinya bawa dia ke sini karena kondisinya kronis. Pernikahan di ujung tanduk, terus bertengkar karena uang belanja sampai uang anak sekolah dipakai judi,” ucap dokter jiwa itu. Lelaki ini masih dirawat. Ia berada dalam fase kambuhan atau berhenti sebentar lantas kembali berjudi. Dari kasus mahasiswa dan lelaki yang sudah beristri itu ada kesamaan, yaitu mereka berasal dari kalangan menengah.
Judi menjadi salah satu cara untuk mendapatkan uang. Situasi mereka berbeda dengan orang kaya yang juga berjudi. Alasan orang untuk berjudi tak melulu menambah pundi-pundi rupiah. Ada yang penasaran, ingin memuaskan hasrat atau mencari sensasi, dan memacu adrenalin karena judi seperti lomba menang atau kalah. Prevalensi kecanduan judi di Indonesia 1 % dari jumlah penduduk. Artinya, ada 3 juta orang yang kecanduan judi. ”Intinya judi penyakit akut. Bukan berarti tidak bisa diobati. Kecanduan bisa pulih dengan terapi,” ujar Yenny. Judi tidak ada untungnya. Stop sebelum terlambat. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023