;

”Food Estate” dan Ekonomi Singkong

Ekonomi Yoga 15 Jul 2024 Kompas
”Food Estate” dan Ekonomi Singkong

Diskusi kelompok terarah (FGD) bertajuk ”Meninjau Ulang Kebijakan Subsidi Pupuk” yang digelar harian Kompas bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) di Jakarta pada 10 Juli 2024, mempertemukan perwakilan Kementan, DPR, organisasi petani, dan akademisi. Lelucon soal food estate atau lumbung pangan singkong lahir dari interaksi dua pembicara, yakni Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa dan Sekjen Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Heri Soba. ”Kami senang sekali ketika pemerintah membangun food estate singkong di Gunung Mas, Kalteng. Namun...,” kata Heri. Belum tuntas Heri bicara, Dwi Andreas menimpali. ”Yang ditanam singkong, yang tumbuh justru jagung,” ujar Dwi yang diikuti gelak tawa peserta FGD.

Pemerintah pernah mencetak food estate singkong di Kabupaten Gunung Mas di lahan seluas 600 hektar (ha) yang dimulai November 2020 dengan target luas lahan 31.000 ha. Namun, sepanjang 2021-2023, komoditas dengan usia panen 6-10 bulan itu tak pernah menghasilkan. Banyak singkong tidak tumbuh ideal lantaran tanah bekas hutan hujan tropis yang dibabat itu didominasi pasir. Guna menutupi kegagalan itu, pemerintah menggantinya dengan jagung. Menurut Heri, sejak 2022, singkong telah dicoret dari daftar komoditas pengguna pupuk bersubsidi. Ia berharap pemerintah memasukkan kembali singkong ke daftar komoditas pengguna pupuk bersubsidi.

Alasannya, potensi singkong dan produk olahannya di dalam dan luar negeri cukup besar. Singkong juga merupakan tanaman pangan alternatif penunjang diversifikasi pangan nasional. Selain itu, banyak industri yang membutuhkan singkong, baik untuk bahan baku tepung tapioka maupun makanan jadi. ”Bahkan, singkong menjadi bahan baku utama aneka makanan tradisional di sejumlah daerah di Indonesia,” kata Heri. Berdasarkan data Market Research Future, nilai pasar singkong global pada 2022 mencapai 175,9 miliar USD dan diperkirakan tumbuh menjadi 183,25 miliar USD pada 2024 dan 254,28 miliar USD pada 2032. Dalam periode 2024-2032, tingkat pertumbuhan tahunannya 4,18 %.

Pertumbuhan nilai pasar singkong global itu tak lepas dari permintaan singkong dan produk turunannya untuk bahan baku dan penolong sejumlah industri. Industri makanan-minuman membutuhkan singkong beku dan kering, tepung tapioka, dan gula singkong untuk pemanis minuman. Industri benang, tekstil, dan produk tekstil juga membutuhkan pati (tepung) singkong. Di industri kertas, pati singkong dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas kertas dan meningkatkan produksi bubur kertas. Sayangnya, Indonesia yang memiliki banyak sumber lahan untuk tanaman singkong kurang mengoptimalkan ekonomi singkong. Dalam lima tahun terakhir, tren produksi singkong nasional cenderung turun. Indonesia bahkan menjadi negara pengimpor singkong dan sejumlah produk turunannya. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :