Syaf Anton WR Suarakan Madura lewat Sastra
Orang mengenal Madura dengan stereotipe keras. Melalui sastra, Syaf Anton menyuarakan sisi lembut Madura. Sisi sederhana dan penuh cinta. Kekuatan sastra Madura memang diakui pada sastra lisan. Di Era Balai Pustaka, tahun 1910-1930, ada 35 judul buku sastra Madura diterbitkan. Pencarian buku itu salah satu kegiatan R Syaiful Anwar atau Syaf Anton (68). Perkembangan sastra Madura tak lepas dari Keraton Sumenep, yang memengaruhi kehidupan masyarakat sekitar, termasuk dalam sastra. Saat itu berbagai jenis sastra, seperti paparegan dan saloka, memanfaatkan kearifan lokal Madura menjadi materi.
Dekade 1970-an hingga 1980-an, lazim terdengar orang di perdesaan Madura berkidung. Kekayaan dan kelembutan sastra Madura yang menjelma dalam kehidupan sehari-hari membuat Syaf Anton mencintai sastra sejak SMP (1973). Sejak itu, ia terus menulis dan mengirimkan karya ke mana-mana. Setamat SMA pada 1977, Syaf Anton pindah ke Surabaya. Ia mengirimkan puisi dan cerpen ke media-media di Surabaya, Yogyakarta, maupun Jakarta. Tahun 1978 ia diminta almarhum penyair Suripan Sadi Hutomo membantu mengasuh rubrik Balada, Harian Bhirawa, khususnya rubrik cerita mini berbahasa Madura.
Di ujung 1981, Syaf Anton kembali ke Sumenep, mendirikan Bengkel Seni Primadona (1984), Sanggar Seni Kembara (1985), Sanggar Sastra Mayang (1985), dan Forum Bias (forum kajian sastra dan budaya) (1994). Ia juga mengoordinasi para seniman dari semua bidang seni dalam Jaringan Seniman Sumenep (JSS) (1999). Pernah pula ia menjadi Ketua Umum Dewan Kesenian Sumenep serta mendirikan Rumah Literasi Sumenep. ”Lewat sastra, orang akan lebih mudah tersentuh. Ungkapan-ungkapan sastrawi bisa mengenakkan bagi pendengarnya sehingga kritik sekalipun akan terdengar santun dan lembut,” ujarnya. Syaf Anton terus menulis puisi. Satu demi satu bukunya terbit hingga mendapat penghargaan.
Karyanya, antara lain, puisi tunggal ”Cermin” (1990), kumpulan puisi Bingkai (1993), kumpulan puisi Langit Suasa Langit Pujangga (2016), dan novel Marlena, Perjalanan Panjang Perempuan Madura (2019).Cinta pada sastra tidak berhenti pada dirinya sendiri. Syaf Anton mengajak banyak orang Madura terus bersastra. Selain mengajari sastra, Syaf Anton juga membina kesenian teater Hilal dan Sanggar Sastra Al-Amien. Belakangan, lahir penulis-penulis Madura dari sini. Syaf Anton tetap memupuk semangatnya menjaga api literasi di Madura dan kini tengah menyiapkan munculnya museum sastra Madura. (Yoga)
Postingan Terkait
Geopolitik Memanas, Bisnis Bank Emas Mengkilap
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023