;

Bara Muda Pelopor Kemajuan Madura

Bara Muda Pelopor Kemajuan Madura

”Laskar Sape Kerrab” (julukan Madura) terus bergerak, berinovasi, dan menginspirasi dalam upaya pemajuan Madura. ”Bibit-bibit ini baru ditanam untuk menyulami tanaman mangrove yang sudah rusak. Kami harus membuat bentang alam untuk menangkal abrasi yang menggerus pantai terus-menerus,” ujar Fatlillah (45) di Pantai Kundang Wetan, Desa Tanjung, Saronggi, Sumenep, Madura, Selasa (7/5). Ia memulai gerakan penanaman mangrove sejak 2017 dan Sekretaris Pokmaswas Reng Paseser, Saronggi, Sumenep, yang bergerak di bidang plestarian ekosistem laut, baik di daratan maupun di dalam air. Fatlillah mengatakan, kawasan pesisir tengah menghadapi ancaman kerusakan akibat abrasi, pembuangan sampah rumah tangga ke laut, dan alih fungsi lahan.

Kondisi ekosistem laut yang berada juga tidak kalah memprihatinkan akibat penangkapan ikan menggunakan bahan peledak. ”Jika dibiarkan, hasil tangkapan nelayan terus merosot karena ikannya tidak bisa berkembang biak,” ucap Koordinator Sumenep Kelompok Peduli Mangrove Madura itu. Guna memulihkan ekosistem pesisir, pokmaswas rutin menanam mangrove di daratan dan pulau-pulau kecil, seperti Gili Labak serta Gili Genting. Pembibitan mangrove dilakukan sendiri dengan produksi 11.000 bibit per tahun, melibatkan ibu-ibu rumah tangga di Desa Tanjung.Mastuki (38), warga Desa Bira Tengah, Sokobanah, Sampang, di pantai utara Madura. Anak nelayan yang juga pedagang ikan teri di pasar itu, mengubah lubang-lubang bekas galian tambang pasir laut menjadi destinasi wisata di Pantai Lon Malang.

Upaya Mastuki menciptakan lapangan kerja bagi pemuda desa, dengan gaji Rp 1,2 juta hingga Rp 1,4 juta per bulan, di atas upah minimum daerah. Para ibu rumah tangga dilibatkan dalam pembuatan cendera mata, seperti tas, dompet, dan gantungan kunci, sedikitnya 180 orang terlibat. ”Kalau bukan pemuda (pelopornya), siapa lagi,” ujar Mastuki. Kiprah Wawan Noviyanto (35) lain lagi. Ia melestarikan tradisi pembuatan keris di Desa Aeng Tong Tong, Sumenep, lewat desa wisata, ia membuat paket wisata sehari menjadi empu yang menarik turis domestik dan mancanegara. Warisan nenek moyang itu pun kian dikenal publik. Mengubah citra Madura turut diperjuangkan Yusrif Rahmat Syakur (21) dan Faihaa (20), mahasiswa IAIN Madura. Lewat program Lensa Sekolah yang diinisiasi media lokal Klikmadura, mengangkat aktivitas pemuda Madura yang mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak sekolah.

Rektor Institut Ilmu Keislaman (Instika) Annuqayah, Muhammad Naqib Hasan, menyatakan, tanpa peran pemuda, kemajuan pembangunan di empat kabupaten di Madura sulit dicapai. ”Pemuda (sumber) kekuatan yang luar biasa. Beri panggung kepada kaum muda agar mereka bisa berkiprah seluas-luasnya untuk kemajuan Madura,” katanya. Madura menduduki peringkat tertinggi persentase jumlah penduduk miskin di Jatim tahun 2023. Mayoritas penduduk tidak tamat SD. Mengatasi isu SDM itu, sosiolog UTM, Iskandar Dzulkarnain, mengatakan, kiprah para pemuda harus semakin ditingkatkan. Buka akses seluasnya agar lebih banyak inspirasi, inovasi, dan kreasi untuk mempercepat pemajuan Madura. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :