;

Fatlillah Memulihkan Pesisir Sumenep

Fatlillah
Memulihkan Pesisir Sumenep

Berbekal bibit mangrove, cemara udang, dan daya juang tinggi, Fatlillah (44)  memulihkan ekosistem pesisir Madura yang kini menjadi tujuan wisata, tempat pembelajaran, penelitian, hingga pemberdayaan ekonomi. Ribuan bibit tanaman mangrove memenuhi Rumah Bibit Mangrove di Pantai Kundang Wetan, Desa Tanjung, Sumenep, Madura, Selasa (7/5) sore. Jumlahnya lebih dari 10.000 bibit siap tanam dari berbagai jenis, seperti Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, dan Rhizophora apiculata. Fatlillah mengatakan, pembibitan mangrove berjalan sejak 2017 secara swadaya. Baru pada 2023 ada bantuan bibit dari instansi pemerintah dan swasta. Juga ada bibit cemara udang yang diproduksi secara mandiri. Kapasitas produksi bibit mangrove dan cemara udang mencapai 11.000 bibit per tahun. Pembibitan swadaya ini melibatkan ibu-ibu rumah tangga di lingkungan sekitar. Mereka bertugas menyiapkan media tanam, seperti polybag, tanah, dan pupuk kompos, dengan upah Rp 200 per bibit tanaman mangrove.

”Pelibatan ibu-ibu menjadi wahana edukasi lingkungan pesisir dan pemberdayaan ekonomi menambah penghasilan keluarga,” ujar Fatlillah. Ibu-ibu tersebut otomatis belajar mengenal tanaman mangrove, cara merawatnya, hingga manfaat yang diperoleh. Hal itu menjadi pintu masuk sosialisasi masyarakat agar tak menebang tanaman untuk kepentingan ekonomi, seperti pembukaan lahan tambak dan pengambilan kayu bakar. Sebaliknya, keberlangsungan mangrove memberi manfaat besar bagi warga. Selain menangkal abrasi, juga menjadi habitat bagi biota laut bernilai ekonomi tinggi, seperti ikan, udang, dan kepiting. Hutan mangrove juga berpotensi memperkaya destinasi wisata di Pantai Kundang Wetan. Pembibitan mangrove merupakan kegiatan Kelompok Masyarakat Pengawas Perikanan Reng Paseser Kecamatan Saronggi, yang meliputi tiga desa berpesisir, yakni Tanjung, Kebundadap Timur, dan Pagarbatu.

Sebelumnya, ia menggagas tempat wisata pantai dan hutan mangrove yang diberi nama E Kasoghi di Kecamatan Saronggi. ”Tutupan hutan mangrove di Pantai E Kasoghi dan pantai-pantai lain juga punya daya tarik sendiri untuk jadi tempat penelitian. Sudah banyak perguruan tinggi yang meneliti di sana, baik tentang pariwisata maupun hutan mangrovenya,” papar Fatlillah. Guna memulihkan ekosistem pesisir, penanaman mangrove tak hanya dilakukan di wilayah daratan, tetapi juga pulau-pulau kecil, seperti Gili Labak, Gili Genting, dan Gili Iyang. Baru-baru ini, tiga gili itu gencar dipromosikan sebagai destinasi wisata global. Gili Iyang memiliki oksigen terbaik kedua di dunia, Gili Labak memiliki pemandangan bawah laut yang cantik, sedangkan Gili Genting memiliki pesisir pantai menawan.

Menurut dia, tantangan terbesar saat ini ialah pembiayaan, terutama untuk pembelian bahan dan akomodasi menuju tempat konservasi. Untuk mengangkut bibit-bibit mangrove ke pulau-pulau kecil, diperlukan perahu berbahan bakar solar. Total biayanya ratusan ribu rupiah untuk satu pulau. Menyiasati kendala biaya, Fatlillah menawarkan paket wisata dengan daya tarik menanam terumbu karang. Juga wisata menanam mangrove berbiaya terjangkau. Namun, daya jangkau promosi wisatanya masih terbatas di Sumenep sehingga jumlah wisatawannya belum optimal. Fatlillah terus membangun jejaring dengan merangkul para pemuda dari desa-desa lain yang memiliki wilayah pesisir. Mereka diajak mengenal lingkungan sendiri dan memetakan potensi ancaman yang ada di sekitarnya. Juga mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir agar rumah dan desa mereka tak tergerus abrasi. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :