Pangan ikut Memompa Kenaikan Impor Indonesia
Nilai impor perlahan mulai naik, setelah dalam tren penurunan sejak akhir tahun lalu. Kenaikan tersebut antara lain didorong lonjakan impor barang konsumsi atau bahan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor pada Mei 2024 mencapai US$ 19,40 miliar, atau terbesar setelah November 2023 (lihat tabel). Angka ini tumbuh 14,82% month to month (mtm), setelah kontraksi secara bulanan sejak Desember 2023. Bukan hanya nilainya, volume impor Mei juga naik. Volume impor bulan lalu tercatat 19,25 juta ton, naik dari April sebesar 17,21 juta ton.
Bahkan volume impor tersebut menjadi yang terbesar sepanjang tahun berjalan 2024. Salah satu pendorongnya adalah impor barang konsumsi yang tercatat US$ 1,73 miliar, naik signifikan 20,59% mtm. Kinerja itu disebabkan lonjakan impor pangan, terutama beras. "Impor pangan jika dirinci, pertama beras naik 165,27% dibandingkan Januari hingga Mei 2023," ungkap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah dalam konferensi pers, Rabu (19/6). Kabar baiknya, porsi impor barang konsumsi hanya 9,49% dari total impor. Impor Indonesia masih didominasi bahan baku atau penolong sebesar 73,16% dan tumbuh dua digit mencapai 12,46% mtm. Selain itu, impor barang modal dengan porsi 17,35% dan tumbuh dua digit yakni 22,28% mtm. Di sisi lain, nilai ekspor Mei tercatat US$ 22,33 miliar atau naik masing-masing 13,82% mtm dan 2,86% yoy.
Kinerja ekspor terutama ditopang kenaikan ekspor besi dan baja yang meningkat masing-masing 1,22% mtm dan 8,30% yoy. Sementara ekspor batubara dan minyak sawit mentah menurun secara bulanan maupun tahunan. Surplus neraca perdagangan disokong oleh surplus pada komoditas nonmigas sebesar US$ 4,26 miliar. Di saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$ 1,33 miliar. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, penurunan impor secara tahunan dipicu tingginya basis pada periode sama 2023. Selain itu, "Pertumbuhan ekspor China ke Indonesia yang mencapai dua digit secara bulanan," kata Josua, kemarin. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, kenaikan impor sejalan dengan kembali normalnya aktivitas masyarakat setelah menurun pasca Idul Fitri lalu. Makanya, volume impor juga meningkat.
Postingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Mengendalikan Daya Tarik Eksplorasi Migas
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Kemungkinan Pemerintah Membuka Opsi Impor Gas
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023