;

Hidup Mati Seni Pertunjukan di Era Digital

Hidup Mati Seni Pertunjukan di Era Digital

Di masa sekarang, teknologi digital ibarat dua sisi pedang tajam bagi seni pertunjukan, yaitu menjadi problem sekaligus solusi. Namun, publik meyakini seni pertunjukan akan mampu bertahan, bahkan bisa lebih berkembang. Di satu sisi, perkembangan teknologi dan digital beserta segala hiburan di dalamnya berkontribusi menyurutkan minat masyarakat terhadap seni pertunjukan. Namun, di sisi lain, ia bisa menjadi sarana untuk melestarikan dan mengembangkan seni pertunjukan khas Indonesia. Seni pertunjukan yang mulai ditinggal peminatnya dilihat publik sebagai problem utama bagi para pekerja seni pertunjukan saat ini. Hal itu diungkapkan oleh sepertiga responden jajak pendapat Kompas yang dilakukan 5-8 Juni 2024. Menurut responden, menurunnya ketertarikan masyarakat pada seni pertunjukan itu terjadi baik pada sisi pekerja seni maupun penikmat seni.

Artinya, minat masyarakat untuk menjadi pekerja seni pertunjukan berkurang. Begitu juga animo masyarakat sebagai penonton seni pertunjukan. Situasi ini berdampak luas pada berbagai lini industri seni. Dari sisi produksi, berkurangnya ketertarikan masyarakat itu berpengaruh pada jumlah SDM yang berkecimpung dalam seni pertunjukan, karena seni pertunjukan dianggap kurang menjanjikan secara popularitas dan ekonomi. Saat ini, seperti terekam dalam hasil jajak pendapat Kompas, publik memang masih kerap menonton seni pertunjukan. Sebanyak 65,3 % responden mengaku dalam setahun terakhir masih menonton seni pertunjukan. Bahkan, empat dari sepuluh responden baru menikmati pertunjukan kesenian, seperti teater, sandiwara tradisional, drama, seni tari, atau komedi pada bulan lalu.

Hanya saja, banyak di antaranya menikmati seni pertunjukan itu dari acara yang diselenggarakan pemerintah, baik pemerintah pusat hingga pemerintah desa maupun pihak swasta. Mereka yang terakhir menonton seni pertunjukan di acara-acara itu ada 29,3 %. Acara-acara itu biasanya merupakan pertunjukan bagi masyarakat secara gratis, seperti festival yang menampilkan tari-tarian atau pesta peringatan hari tertentu dengan hiburan seni pertunjukan. Turunnya minat terhadap seni pertunjukan secara tidak langsung berkaitan dengan berkembangnya media digital dan hiburan. Sebanyak 19,4 responden meyakini hal itu menjadi tantangan bagi para pekerja seni. Penampilan seni pertunjukan yang biasa digelar mulai dari lingkup terkecil di desa hingga kota/kabupaten bersaing dengan acara-acara televisi, serial di video on demand, ataupun tayangan hiburan lainnya di Youtube.

Namun, teknologi digital juga menjadi sarana baru bagi peminat seni pertunjukan untuk menonton penampilan seniman di layar digital. Pada 2018, hanya 48,8 % penduduk menyaksikan pertunjukan seni melalui platform televisi, radio, Youtube, dan media sosial. Tiga tahun kemudian, persentasenya meningkat menjadi 59,11 %. Sejumlah sanggar atau lembaga seni serta pemerintah rutin menayangkan pertunjukannya di platform digital. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi seni pertunjukan untuk tetap relevan memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat, juga penting agar seni pertunjukan dapat berkembang mengikuti zaman. Pendampingan dan penggerak dalam mengolaborasikan seni pertunjukan ke ranah digital juga dibutuhkan mengingat tak setiap sanggar atau komunitas seni pertunjukan punya kapasitas terkait hal itu. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :