Bantu Urai Isu Sampah, Plastic Odyssey Singgah di Ambon
Masalah sampah jadi isu yang hingga kini belum terpecahkan di banyak daerah, termasuk di Kota Ambon, Maluku. Jumlah sampah yang terus meningkat tidak diiringi peningkatan kapasitas pengelolaan sampah menyebabkan kualitas lingkungan di pesisir Teluk Ambon tercemar. Kapal Plastic Odyssey dari Perancis berlabuh di Ambon, Jumat (14/6) menawarkan solusinya. Kadis Lingkungan Hidup dan Persampahan Kota Ambon Alfredo Hehamahua menjelaskan, sampah plastik memang menjadi pergumulan besar Kota Ambon. Sebanyak 220 ton sampah dihasilkan per hari dengan 185 ton berakhir di TPA. Sisanya terbuang ke laut atau dibuang sembarangan di mana saja. Kehadiran kapal Plastic Odyssey dari Perancis ini disambut baik karena memberi solusi persoalan sampah plastik di ibu kota Provinsi Maluku ini.
Ambon menjadi kota pertama yang disambangi kapal dengan fasilitas pengolahan sampah tersebut. Selanjutnya, kru kapal akan singgah di beberapa kota lain Indonesia, seperti di Makassar, Sulsel; dan Jakarta. ”Masalah sampah plastik di Ambon belum terpecahkan oleh pemda. Jumlah sampah terus meningkat seiring penambahan jumlah penduduk,” ujarnya di Ambon, Jumat. Selain penambahan penduduk, pemicu darurat sampah di Ambon, adalah sarana dan prasarana yang minim. Masyarakat juga belum memiliki pengetahuan yang tepat soal pengelolaan sampah. Ambon pun kerap menerima sampah dari wilayah Kabupaten Maluku Tengah yang tidak memiliki angkutan sampah memadai.
Persoalan sampah tak hanya di darat, tetapi hingga pesisir Teluk Ambon. Di kota ini, terdapat 104 saluran terbuka berupa sungai kecil yang bermuara ke Teluk Ambon sehingga sampah yang tidak terangkut masuk ke laut. Ditambah, perilaku buang sampah sembarangan ke sungai. ”PAD dari retribusi sampah tidak signifikan. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan dukungan untuk mencari solusi,” ujarnya. Pendiri Plastic Odyssey, Simon Bernard, menjelaskan, kehadiran kru kapal Plastic Odyssey di Kota Ambon adalah untuk membekali masyarakat lokal dengan alat dan pengetahuan baru mengenai pengelolaan sampah, untuk menciptakan kota yang lebih bersih.
Dengan pendekatan daur ulang, sampah plastik dapat diolah menjadi barang dengan nilai ekonomi tinggi, seperti meja dan kursi. Penerapan teknologi daur ulang skala lokal ini dapat dimulai dengan peralatan yang harganya cukup terjangkau. Selanjutnya, teknologi ini dapat direplikasi oleh pengusaha lokal sehingga bisa memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Pemilihan Ambon sebagai tujuan ekspedisi karena kota ini sedang menghadapi tantangan besar dalam mengelola sampah plastik. Dari situs resmi Plastic Odyssey disebutkan, setiap menit ada 19 ton sampah plastik dibuang ke laut. Jika tidak ada langkah konkret menangani sampah, terutama sampah plastik, pada 2050 ada lebih banyak plastik daripada ikan. (Yoga)
Postingan Terkait
Mendaur Ulang Sampah Plastik sisa Gerai Kopi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023