”Mooring” Lindungi Terumbu Karang
Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya, resmi menggunakan sistem mooring, yakni fasilitas tambatan kapal, untuk melindungi terumbu karang, Jumat (7/6). Upaya ini yang pertama kali di Indonesia, khususnya di kawasan konservasi perairan. Pemasangan sistem mooring atau alat tambatan kapal untuk berlabuh berlangsung di dua titik perairan, yakni Friwen dan Mioskun di Distrik Waigeo Selatan. Berat setiap alat 430 kg. Pemasangan alat ini hasil kolaborasi Konservasi Indonesia bersama Pemprov Papua Barat Daya dan Pemkab Raja Ampat. Pendanaannya oleh lembaga Global Fund for Coral Reefs. Masyarakat di Pulau Friwen terlebih dahulu menggelar upacara adat. Kemudian mooring dilepaskan di Mioskun di kedalaman 44 meter dan Friwen di kedalaman 48 meter. Proses pemasangannya menggunakan kapal landing craft transport (LCT).
Direktur Program Papua Program Konservasi Indonesia, Roberth Mandosir seusai kegiatan mengatakan, penggunaan mooring penting untuk melindungi kawasan konservasi Raja Ampat, untuk pengamanan dan perlindungan 1.700 spesies terumbu karang di kawasan konservasi Raja Ampat yang mencapai 1,9 juta hektar. Penggunaan mooring di kawasan konservasi Raja Ampat pertama kali di Indonesia. Hal ini menandai pendekatan baru dalam upaya melindungi terumbu karang dan dapat diduplikasi di kawasan konservasi perairan lainnya. Proyek ini akan dievaluasi setelah enam bulan. ”Latar belakang penggunaan mooring karena banyak peristiwa kapal kandas dan nakhoda kapal yang melepaskan jangkar sembarangan. Aktivitas ini berdampak pada terumbu karang di Raja Ampat,” kata Robert. Ia menuturkan, penggunaan fasilitas mooring di dua lokasi itu untuk kapal dengan ukuran tidak lebih dari 700 gros ton (GT). (Yoga)
Postingan Terkait
Akses Terputus, Warga Enggano Menjerit
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023