Pergulatan Pahlawan Pangan di NTT Galakkan Pangan Lokal
Tanaman jagung Laurensius Gole (74) mengering di kebun tadah hujan miliknya di Desa Bhera, Kabupaten Sikka, NTT, lantaran curah hujan sangat minim dan panas berkepanjangan. Hanya tanaman singkong yang disebut ubi kayu oleh warga lokal tumbuh subur. ”Hanya ini tanaman yang tersisa untuk makan,” ujarnya, Selasa (14/5 ) pagi. Singkong ditanam pada Desember 2023, bersamaan dengan jagung. Seiring waktu, jagung tidak berdaya menahan kekeringan, sementara singkong masih tegak berdiri. Bulan Juni 2024, singkong sudah bisa dipanen dengan hasil memuaskan. Menanam singkong, jagung, pisang, kacang, dan berbagai tanaman pangan di dalam satu lahan adalah cara bertani yang dipraktikkan petani setempat secara turun-temurun. Mereka punya banyak jenis tanaman dengan waktu panen berbeda-beda. Setelah padi dan jagung dipanen, akan menyusul tanaman lain.
”Sepanjang tahun, kebun terus menghasilkan makanan,” ucap Gole. Perubahan iklim sebagai dampak pemanasan global mengacaukan ritme musim tanam. Petani lahan tadah hujan terkecoh. Banyak tanaman pangan tak hanya berakhir gagal panen,tetapi juga gagal tanam sejak awal. ”Ke depan, kami akan perbanyak tanaman selain padi dan jagung,” kata Gole. Lahan tadah hujan itu dulunya dialiri air sepanjang tahun sehingga Gole dan lebih dari 30 keluarga petani menanam padi dan jagung diselingi tanaman lokal lain. Mereka swadaya membendung Sungai Lowo Lo’o menggunakan atu dan kayu dan mengalirkan airnya ke lahan petani. Sayangnya, badai Seroja pada April 2021 merusak dam itu. Empat tahun terakhir, sawah mereka kering kerontang.”
Gerakan mendorong pangan lokal selain padi terus menguat. Namun, tak mudah mengubah kebiasaan bertani dan mengonsumsi makanan. Maria Loretha, perempuan asal Flores Timur, NTT, yang gencar mengampanyekan budidaya sorgum, mengatakan, masyarakat NTT sulit meninggalkan beras. Harga beras sempat menembus Rp 17.000 per kg. Ada yang terpaksa berutang membeli beras. Padahal, di sekitar mereka banyak makanan lokal yang bisa dibudidayakan sendiri. Kampanye konsumsi pangan lokal pun makin gencar menyasar generasi muda. Pangan lokal diolah sesuai selera anak muda, seperti sereal dari sorgum, keripik pisang atau ubi beraneka rasa. ”Kita dorong anak muda di setiap kampung punya produk makanan berbahan lokal,” ucap Loretha. Tak hanya konsumsi. Anak muda juga diajak bertani seperti yang dilakukan Yance Maring (35), pelopor pertanian irigasi tetes.
Puluhan anak muda belajar tanaman hortikultura di kebun Yance di Maumere. Mereka diajari bertani, mulai penyiapan lahan hingga pemasaran. Lahan tani juga dikemas menjadi destinasi wisata agro. Setiap petang, banyak anak muda datang melihat operasional irigasi tetes yang dikendalikan digital itu. Ada juga kafe yang menyediakan berbagai jenis minuman dan gazebo untuk tempat duduk santai. ”Ini metode mengajak anak muda bertani. Pendekatan harus teknologi dan menghadirkan sisi visual yang menarik. Banyak yang sudah tergoda menjadi petani. Pesan kami adalah petani itu keren,” kata Yance. Tak hanya sekadar pemanis, irigasi tetes Yance juga sangat prospektif karena pengairan dan pemupukan lebih efisien 40 % dari cara konvensional. Pekerja juga lebih sedikit dan produktivitas lahan naik 150 % dari cara tradisional. (Yoga)
Postingan Terkait
Pemasaran Digital Rokok Menyasar Anak Muda
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023