Hapus HET Perlu Buffer Stock untuk kontrol Harga Gula
Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menyarankan agar pemerintah menghapus harga acuan penjualan (HAP) di tingkat konsumen (harga eceran tertinggi/HET) pada komoditas gula konsumsi. Alasannya, selain tidak efektif menekan harga gula di pasaran, skema ini juga membuat barang petani menjadi sulit dibandrol di atas biaya pokok produksi. Dalam mengontrol harga gula, pemerintah harusnya memiliki stok penyangga (buffer stock) yang bisa sewaktu-waktu digunakan untuk operasi pasar, baik saat terjadi kelangkaan atau harga melonjak tinggi. Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan, HAP gula konsumsi hanyalah harga acuan, berarti penerapannya bisa naik di atas HAP atau turun di bawah HAP atau ada toleransi tertentu sehingga dianggap wajar. Dengan fleksibilitas atau relaksasi HAP gula konsumsi saat ini menjadi Rp 17.500 per kilogram dan toleransi 10-15%, konsumsi mestinya bisa menerima apabila harga di pasaran Rp 19-20 ribu per kg. Dalam praktiknya sulit diterapkan. Beberapa retail modern sempat tidak berani menjual gula dengan harga sebesar itu. (Yetede)
Tags :
#KomoditasPostingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
30 Jun 2025
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
26 Jun 2025
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
24 Jun 2025
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
24 Jun 2025
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
23 Jun 2025
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
21 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023