;

Pelemahan Pasar Sektor Energi - Duo Emas Hitam Makin Gelagapan

Lingkungan Hidup R Hayuningtyas Putinda 09 May 2020 Bisnis Indonesia, 08 May 2020
Pelemahan Pasar Sektor Energi - Duo Emas Hitam Makin Gelagapan

Tekanan terhadap dua penopang sektor energi yakni minyak bumi dan batu bara kian berat. Ini tampak dari turunnya harga acuan kedua komoditas yang sama-sama kerap disebut emas hitam itu.

Harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) pada April tercatat anjlok ke angka US$20,66 per barel. Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga merilis bahwa harga batu bara acuan (HBA) untuk Mei 2020 juga tercatat turun menjadi US$61,11 per ton. 

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman dan Direktur Utama Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengatakan rendahnya harga minyak mentah Indonesia akan berdampak terhadap kinerja bisnis perseroan di sektor hulu. Pihaknya melakukan sejumlah inisiatif dengan efisiensi dan menerapkan efektivitas operasional. 

Kendati demikian, dia menyatakan Pertamina dan Pertamina EP masih bisa mencetak profit di tengah kondisi tersebut dengan cara efisiensi besar-besaran. 

Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Fatar Yani Abdurrahman mengatakan pihaknya masih memantau terus mengenai perkembangan harga minyak global dan ICP ini dalam merumuskan rekomendasi kebijakan di hulu migas. 

Senada, Pendiri ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, untuk menghitung keekonomian bisnis tidak hanya tecermin berdasarkan dengan harga per bulannya, melainkan rata-rata harga selama setahun. 

Dia memproyeksikan, ICP akan merangkak naik apabila terjadi pemulihan dampak Covid-19 secara global.   

Sementara itu, untuk batu bara, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan melambatnya perekonomian global akibat pandemi Covid-19 berdampak pada turunnya permintaan komoditas itu dari konsumen utama batu bara di kawasan Asia a.l. China, Korea Selatan, India dan Jepang. 

Direktur & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk (BRMS) Dileep Srivastava menuturkan memang harga batu bara saat ini tengah tertekan. Namun, efisiensi masih bisa diterapkan untuk produk batu bara dari produsen berbiaya rendah yang efisien. Saat ini harga minyak juga tengah merosot sehingga akan dapat membantu perusahaan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. Arviyan Arifin mengatakan perusahaan mengoptimalkan peluang pasar ekspor ke beberapa negara di Asia di tengah fluktuasi HBA. 

Penjualan batu bara perusahaan terkena dampak akibat kebijakan protokol penguncian atau lockdown, salah satunya yang dilakukan oleh India yang sempat tak lagi menerima kapal masuk termasuk tongkang batu bara.

Download Aplikasi Labirin :