;

Di Balik Rekor Serapan Tenaga Kerja

Ekonomi Yoga 02 May 2024 Kompas
Di Balik Rekor Serapan Tenaga Kerja

Dalam percakapan sehari-hari serta obrolan di linimasa, keluhan masyarakat sering berseliweran mengenai semakin sulitnya mencari kerja akhir-akhir ini, terutama selepas pandemi Covid-19. Pemerintah mengakui kekurangan itu. Bahlil berkali-kali berdalih, pemerintah fokus menarik investasi padat teknologi dan padat modal demi mengerek pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih masif. Di sisi lain, investasi padat karya semakin sulit dicari di tengah maraknya tren otomasi di dunia industri. ”Kalau kita hanya berpikir padat karya, sampai ayam tumbuh gigi pun negara ini tidak akan maju, karena padat karya itu, mohon maaf, gajinya terukur. Kalau kita hanya ciptakan lapangan kerja dengan gaji Rp 4 juta-Rp 5 juta terus, bagaimana mau naik kelas?” ucap Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers kinerja investasi 2023, awal tahun ini.

Pada konferensi pers kinerja investasi triwulan I tahun 2024, Senin (29/4) Bahlil akhirnya datang dengan kabar baik. Kinerja investasi mencetak rekor serapan tenaga kerja tertinggi sepanjang sejarah. Investasi senilai Rp 401,5 triliun sepanjang Januari-Maret 2024 itu mampu menyerap 547.419 tenaga kerja. Sebagai perbandingan, secara bulanan, investasi pada triwulan IV-2023 menyerap 457.895 tenaga kerja. Sementara secara tahunan, investasi pada triwulan I-2023 menyerap lebih sedikit tenaga kerja, yakni 384.892 orang. ”Ini rekor paling tinggi, penciptaan lapangan kerja paling banyak dalam sejarah realisasi investasi kita,” kata Bahlil. Peneliti Center for Investment, Trade, and Industry di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, berpendapat, setelah sempat turun signifikan, penyerapan tenaga kerja dari investasi perlahan mulai membaik, tampak dari indikator rasio realisasi investasi terhadap tenaga kerja yang trennya semakin kecil. Pada triwulan I-2024, rasio investasi per tenaga kerja atau nilai investasi yang dibutuhkan untuk menyerap satu pekerja pada periode tersebut senilai Rp 733,44 juta.

Pada triwulan I-2023, nilai investasi untuk menyerap seorang tenaga kerja adalah Rp 854,5 juta. Namun, menurut Heri, rekor angka penyerapan tenaga kerja tertinggi itu belum tentu berkesinambungan. Ada indikasi tenaga kerja yang terserap lebih banyak dipakai untuk proses konstruksi pabrik, serta finalisasi pembangunan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus yang sifatnya sementara. Belum ada jaminan penyerapan tenaga kerja yang tinggi itu akan berlanjut sampai ketika perusahaan resmi beroperasi. Pada tahap operasional, biasanya ada spesifikasi kebutuhan tertentu yang diminta dari pekerja. Pada tahap ini, ada isu klasik kesenjangan (gap) antara kualifikasi yang dibutuhkan dan tenaga kerja yang tersedia. Oleh karena itu, Heri menegaskan, perlu strategi jangka panjang untuk memastikan penyerapan tenaga kerja yang banyak di awal masuknya investasi itu bisa benar-benar berkesinambungan. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :