;

Menjaga Hutan Mangrove sebagai Laboratorium Alam

Menjaga Hutan Mangrove sebagai Laboratorium Alam

Hutan mangrove di bibir pantai Kelurahan Oesapa Barat yang menjadi agrowisata Kota Kupang, NTT, masih tampak rimbun. Namun, di luar kawasan itu, kondisi mangrove semakin hancur, apalagi kini kian dipadati sampah dan bangunan. Sebanyak 35 mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana), Sabtu (20/4) menjelajah hutan agrowisata mangrove di Kelurahan Oesapa Barat. Hasilnya, para mahasiswa menyimpulkan terjadi kerusakan ekosistem mangrove yang kian parah. Risna Bahagia (20), salah seorang mahasiswa, mengatakan, kehadiran mereka ke lokasi ekowisata mangrove seluas 4 hektar itu merupakan kedua kalinya. Pertama kali datang, dia membersihkan lokasi itu dari sampah, dan kali ini mengamati tumbuhan mangrove.

Hampir semua perguruan tinggi dan sekolah menengah membawa siswanya untuk penelitian tentang mangrove di tempat ini. Kawasan itu bagaikan laboratorium alam bagi dunia pendiikan dan penelitian. Hutan mangrove tersebut tetap terawat setelah The International Fund for Agricultural Development (Ifad) Indonesia bekerja sama dengan Pemkot Kupang menata kawasan mangrove. Membangun lorong ”jembatan” mangrove di sela-sela pohon pada tahun 2017. Pembangunan jembatan dan pondok kecil itu didanai Ifad. Sampai tahun 2021, setiap pengunjung dipungut Rp 5.000-Rp 10.000. Kehadiran mahasiswa di lokasi tersebut mengamati perbedaan warna daun setiap pohon, kondisi mangrove yang tumbuh di lumpur dan di pasir.

Selain itu, mereka juga membangun rasa cinta terhadap mangrove dan kondisi pantai pada umumnya. Saat penelitian di lapangan, mahasiswa mendapati perubahan lingkungan. Utamanya, sampah-sampah plastik berserakan di lumpur, pasir, kolam, dan sebagian tersangkut di batang-batang mangrove. Tumpukan sampah itu sangat mengganggu ekosistem pantai terutama kawasan agrowisata mangrove. Bahkan, anakan mangrove yang sedang tumbuh juga tertutup sampah plastik. Para mahasiswa merasa prihatin dengan kondisi sampah yang ada.

Membersihkan lokasi ekowisata dari sampah yang banyak itu tak mungkin selesai hanya dalam sehari. Mereka sudah beberapa kali membersihkan, tetapi sampah selalu muncul kembali di lokasi tersebut. Natalia Fernandes (21) mahasiswa lainnya, mengatakan, mangrove di pantai Kupang perlu dirawat. Mangrove memiliki manfaat besar, tidak hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk menjaga lingkungan pantai. Sebaiknya setiap ruang kosong di bibir pantai dihijaukan dengan tanaman mangrove, terutama yang berhadapan langsung dengan permukiman penduduk. Natalia mengusulkan agar ditempatkan tenaga khusus penjaga mangrove yang bertugas membersihkan lokasi dari sampah dan menanam kembali mangrove yang rusak. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :