Ekonomi Terkontraksi Berat
Tanda-tanda perlambatan ekonomi kian tampak. Tanda- tanda kuat tersebut, di antaranya harga minyak dunia yang terjun bebas.Pasar global sudah menunjukkan harga minyak acuan Amerika WTI dan internasional Brent jatuh sangat dalam. Jenis WTI bahkan terperosok hingga ke level minus pada 21 April lalu untuk kontrak Mei 2020. Dengan harga minus, artinya penyuplai minyak justru siap membayar kepada pembeli.
Harga minyak dunia terlempar jauh hingga menyentuh angka belasan dolar AS saja per barelnya. Ini fakta yang sangat menakutkan terlebih bagi semua negara yang selalu mengandalkan pertumbuhan ekonomi dari jualan minyak. Indonesia memang sudah tak masuk dalam daftar negara pengekspor minyak. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di kota-kota besar membuat aktivitas ekonomi terganggu. Banyak karyawan yang terpaksa harus libur, bahkan tak sedikit terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal ini menilai laju pertumbuhan ekonomi nasional bakal minus 1,9 persen. Dia pesimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua 2020 akan mencapai level positif karena daya beli masyarakat memang sedang menurun. Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean memprediksi tekanan ekonomi yang terjadi akibat pandemi corona baru akan berhenti pada pertengahan 2021.
Pandemi coronavirus telah mengakibatkan kombinasi berbagai macam dimensi, yaitu dimensi pandemi covid-19, efek virus corona terhadap sosial dan politik, dan aktivitas perekonomian yang terpengaruh oleh penyebaran virus covid-19. Menurut Adrian, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 bisa positif, forecast moderat optimistis ekonomi Indonesia tumbuh 1,8 persen pada 2020 dengan inflasi 2,7 persen.
Ekonom Faisal Basri memperkirakan, pertumbuhan ekonomi nasional paling tinggi hanya menembus angka 0,5 persen pada 2020. Skenario terburuknya bahkan hanya minus 0,25 persen. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua 2020 berada pada level negative karena konsumsi rumah tangga sebagai penyokong produk domestik bruto (PDB) menurun.
Menkeu Sri Mulyani menjelaskan, pada triwulan kedua 2020 kemungkinan pertumbuhan ekonomi RI hanya akan menyentuh angka 0,3 persen. Akan tetapi, Menkeu berharap pada kuartal ketiga terjadi rebound minimal pada level 1,5 persen hingga 2,8 persen. Menkeu menggambarkan, akan terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan hingga 3,78 juta orang.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, sesungguhnya pemerintah sudah menyiapkan tiga skenario, yaitu opsi moderat, berat, dan sangat berat. Tolak ukurnya adalah pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, dan inflasi.
"Krisis yang terjadi kali ini berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya."
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Dampak Blokade Selat Hormuz pada Logistik Laut
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023