;

Menuntut Ilmu Makan Siang Gratis ke China

Menuntut Ilmu Makan
Siang Gratis ke China

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, Itu yang dilakukan calon presiden Pemilu 2024, Prabowo Subianto, demi mengeksekusi kebijakan makan siang gratis, program unggulannya semasa kampanye. Atas undangan Presiden China Xi Jinping, Prabowo menghabiskan tiga hari di Beijing, China, pada 31 Maret-2 April 2024. Pada hari terakhir kunjungannya, Prabowo menyambangi sekolah Beijing No.2 Middle School di Dongcheng District, Beijing, meninjau penerapan program makan siang gratis yang berjalan sejak 2011. ”Sangat sehat,” komentar Prabowo saat melihat menu yang tersaji. Lauk dari protein hewani, sayur-sayuran, hingga makanan ringan. China adalah contoh yang sejak tahun 2011 sampai sekarang masih menerapkan kebijakan makan siang gratis bagi anak sekolah di wilayah perdesaan yang miskin.

Program bernama Nutrition Improvement Program (NIP) itu awalnya menarget 699 kabupaten di 21 provinsi seluruh China. Setelah satu dekade, NIP berhasil memperbaiki asupan gizi anak sekolah. Namun, dampaknya, Pemerintah China kelimpungan dengan tingginya beban anggaran yang mesti ditanggung serta kasus korupsi yang bermunculan. Di Kabupaten Du’an di Daerah Otonom Guangxi Zhuang, daerah terpencil dan termiskin di China, yang terpilih untuk program pilot makan siang gratis, satu dekade lalu, anak-anak di Du’an mengalami malanutrisi parah, 12 dari 100 anak sekolah di Du’an mengalami tengkes. Mereka lebih kurus dan lebih pendek 6 cm dibanding anak-anak sepantaran di China.

Pada 2011, pemerintah China mulai menerapkan program makan siang gratis untuk memperbaiki asupan nutrisi anak-anak di wilayah perdesaan. Setiap Senin pagi, 20 truk pendingin akan membawa 4 ton daging babi, 8 ton sayuran dan buah, serta 10,8 ton nasi ke 300 sekolah di desa-desa Du’an, untuk memberi makan 80.000 siswa seminggu. Hasilnya, kondisi fisik mereka membaik. Bagi banyak keluarga di perdesaan Du’an, makan siang gratis dari sekolah menjadi satu-satunya sumber nutrisi untuk anak mereka. Selama 2011-2021, Pemerintah China menghabiskan 147,2 miliar yuan (Rp 323,3 triliun) untuk menyediakan makan siang gratis di 1.762 kabupaten, 29 provinsi, dan 40 juta siswa di perdesaan.

Inflasi pangan membuat harga makanan pokok naik signifikan selama 2011-2021, karena keterbatasan ruang fiskal, alokasi anggaran tetap sama, yakni 4 yuan atau Rp 6.580 per orang per porsi. Hal itu membuat sejumlah menu, seperti daging, dikurangi dari porsi sehingga mengurangi asupan gizi anak. Sekolah juga harus menanggung beban biaya yang tinggi untuk menjaga dapur kantin tetap mengepul. Pemda merogoh kas untuk membayar tagihan listrik, air, dan gaji pekerja kantin sekolah, Namun, karena tidak sanggup, subsidi itu hanya bertahan selama empat tahun pertama. Kedua, proyek makan siang gratis justru membuka celah korupsi.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Teguh Dartanto berkata, Indonesia perlu belajar dari pengalaman negara lain jika ingin tetap menjalankan program makan siang gratis. ”Asumsinya, jika dijalankan utuh, anggarannya Rp 400 triliun-Rp 500 triliun per tahun. Jika parsial atau sebagian, anggarannya Rp 300 triliun. Meski pemerintahan baru nanti bisa menaikkan rasio pajak hingga 0,25 % poin per tahun pun, tambahan penerimaan itu tetap tidak bisa meng-cover biaya program makan siang gratis yang parsial,” tutur Teguh, Minggu (7/4). Jika tujuannya mengatasi tengkes, program itu cukup diberikan untuk ibu hamil dan anak balita. Jika hanya diarahkan untuk kelompok tersebut, kapasitas APBN masih mampu. (Yoga)

Tags :
#Varia #Tiongkok
Download Aplikasi Labirin :