;

Menunggu Niat Kuat Pemerintah Beralih ke Tenaga Nuklir

27 Mar 2024 Kompas
Menunggu Niat Kuat Pemerintah Beralih ke Tenaga Nuklir

Guna memacu kebutuhan energi seusai pandemi, sejumlah negara, termasuk yang maju, justru memacu pembangkit listrik tenaga uap (batubara). Kondisi itu memantik percepatan pengembangan sumber pasokan alternatif yang lebih ramah lingkungan, yaitu energi berbasis nuklir. Wacana itu menjadi benang merah Atom expo 2024 yang digelar Senin (25/3) hingga Selasa (26/3), di Sochi, Rusia. Sejumlah lembaga di Indonesia, seperti BRIN, PT PLN, serta Kementerian ESDM, mengirimkan sejumlah wakilnya dalam pertemuan tersebut. BRIN yang diwakili Kepala Pusat Ristek Reaktor Nuklir Topan Setiadipura menyampaikan pengembangan kajian reaktor nuklir di Indonesia. Proyek bernama PeLUIt-40 itu merupakan pengembangan sistem produksi hidrogen nol emisi.

”Target dari pengembangannya, di antaranya, dedieselisasi dan kogenerasi produksi hidrogen sebesar 1,78 kiloton per tahun,” kata Topan. Berbeda dari sejumlah negara yang kini tengah mengembangkan reaktor dengan kapasitas besar, BRIN justru mengajukan pengembangan reactor kecil berdaya 10 megawatt. ”Targetnya adalah untuk menggantikan pembangkit listrik bertenaga diesel yang berada di daerah-daerah terpencil,” kata Topan. Sejauh ini, kajian tentang pengembangan reaktor kecil modular itu masih terus dilakukan. Biaya yang pernah diajukan untuk membangun sebuah reaktor kecil itu adalah Rp 2 triliun. Menurut dia, dengan kapasitas ekonomi Indonesia saat ini dan mekanisme pembiayaan tahun jamak, rancangan itu tak akan membebani keuangan negara.

Dengan target menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel, nilai produksi reaktor kecil itu kompetitif. Harga jual listrik produksi reaktor yang tengah dikembangkan BRIN mencapai 12 sen per kwh. Sementara harga jual listrik produksi pembangkit tenaga diesel, 24 sen per kWh, bahkan lebih. Pengembangan reaktor generasi IV yang dikaji BRIN di klaim memiliki tingkat keamanan tinggi. Apabila terjadi insiden, reaktor itu memiliki pengaman yang mampu mengisolasi kerusakan dan memiliki mekanisme pendinginan alami. Maka, tak heran, reaktor modular generasi IV itu terus dikembangkan di sejumlah negara, khususnya Rusia dan China. Menurut Direjen Rosatom Alexey Likhachev, pengembangan teknologi nuklir, termasuk reactor kecil modular, adalah masa depan bersama. Saat ini, bergantung pada pemerintah sejauh mana dan sebesar apa niat mewujudkan ketahanan energi nasional. (Yoga)

Tags :
# #Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :