Menunggu Niat Kuat Pemerintah Beralih ke Tenaga Nuklir
Guna memacu kebutuhan energi seusai pandemi, sejumlah negara,
termasuk yang maju, justru memacu pembangkit listrik tenaga uap (batubara). Kondisi
itu memantik percepatan pengembangan sumber pasokan alternatif yang lebih ramah
lingkungan, yaitu energi berbasis nuklir. Wacana itu menjadi benang merah Atom expo
2024 yang digelar Senin (25/3) hingga Selasa (26/3), di Sochi, Rusia. Sejumlah
lembaga di Indonesia, seperti BRIN, PT PLN, serta Kementerian ESDM, mengirimkan
sejumlah wakilnya dalam pertemuan tersebut. BRIN yang diwakili Kepala Pusat Ristek
Reaktor Nuklir Topan Setiadipura menyampaikan pengembangan kajian reaktor
nuklir di Indonesia. Proyek bernama PeLUIt-40 itu merupakan pengembangan sistem
produksi hidrogen nol emisi.
”Target dari pengembangannya, di antaranya, dedieselisasi dan
kogenerasi produksi hidrogen sebesar 1,78 kiloton per tahun,” kata Topan. Berbeda
dari sejumlah negara yang kini tengah mengembangkan reaktor dengan kapasitas
besar, BRIN justru mengajukan pengembangan reactor kecil berdaya 10 megawatt.
”Targetnya adalah untuk menggantikan pembangkit listrik bertenaga diesel yang
berada di daerah-daerah terpencil,” kata Topan. Sejauh ini, kajian tentang
pengembangan reaktor kecil modular itu masih terus dilakukan. Biaya yang pernah
diajukan untuk membangun sebuah reaktor kecil itu adalah Rp 2 triliun. Menurut
dia, dengan kapasitas ekonomi Indonesia saat ini dan mekanisme pembiayaan tahun
jamak, rancangan itu tak akan membebani keuangan negara.
Dengan target menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel,
nilai produksi reaktor kecil itu kompetitif. Harga jual listrik produksi reaktor
yang tengah dikembangkan BRIN mencapai 12 sen per kwh. Sementara harga jual
listrik produksi pembangkit tenaga diesel, 24 sen per kWh, bahkan lebih. Pengembangan
reaktor generasi IV yang dikaji BRIN di klaim memiliki tingkat keamanan tinggi.
Apabila terjadi insiden, reaktor itu memiliki pengaman yang mampu mengisolasi
kerusakan dan memiliki mekanisme pendinginan alami. Maka, tak heran, reaktor modular generasi IV itu terus dikembangkan di sejumlah negara,
khususnya Rusia dan China. Menurut Direjen Rosatom Alexey Likhachev,
pengembangan teknologi nuklir, termasuk reactor kecil modular, adalah masa depan
bersama. Saat ini, bergantung pada pemerintah sejauh mana dan sebesar apa niat
mewujudkan ketahanan energi nasional. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023