;

Kisah BJ Habibie dan Pesawat China C919

24 Mar 2024 Kompas
Kisah BJ Habibie dan
Pesawat China C919

Setelah berjuang sejak 2008, China berhasil meluncurkan pesawat berkapasitas 190 penumpang, Comac C919, pada 2017. Pesawat ini dibuat perusahaan Zhong Guo Shang Fei (Commercial Aircraft Corporation of China atau Comac). Saat ini Comac mendapat pesanan hingga 1.000 unit. Pesawat C919 pertama digunakan oleh maskapai China Eastern Airlines. Comac juga mendapat pesanan dari General Electric, AS, yang juga jadi pemasok sebagian komponen utama C919. Comac 919 dipromosikan besar-besaran pada pameran dirgantara Singapore Airshow di Singapura, 20-25 Februari 2024. Dalam pameran ini, Comac mendapat pesanan 40 pesawat C919 dan 10 unit pesawat ARJ21S dari Maskapai Tibet Air. Di Indonesia, maskapai swasta Trans Nusa telah mengoperasikan pesawat buatan Comac jenis ARJ-21-700 sejak 2023. Pesawat berkapasitas 95 penumpang ini melayani rute Jakarta-Bali.

Sebelum berhasil membuat C919, pada 2007 delegasi ahli dirgantara China yang kemudian menjadi perintis COMAC berkunjung ke pabrik PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Jabar, untuk mempelajari teknologi dirgantara Indonesia, dipimpin insinyur yang mendesain pesawat tempur J-10 Meng Long, Naga Perkasa, tulang punggung AU China saat ini. ”Kalau kita melihat kokpit C919, jumlah kacanya mirip N250 Gatotkaca. Mereka tertarik melihat purwarupa pesawat N250 di Bandung yang hanya menggunakan empat kaca,” kenang Adi Harsono, mantan ketua Kadin Indonesia, di Shanghai, China, yang mendampingi Delegasi Comac ke PTDI tahun 2007, dalam wawancara pada pertengahan Maret 2024.

Setelah kunjungan Comac ke Bandung tahun 2007. Kunjungan itu dibalas kunjungan Mantan Presiden BJ Habibie ke pabrik Comac di Shanghai, China, pada September 2013 dan Habibie mengagumi purwarupa C919. Dalam pidato berbahasa Inggris di hadapan para eksekutif dan teknisi Comac, Habibie berpesan bahwa membuat pesawat nasional harus ada dukungan pemerintah yang kuat dan biaya besar. Sebab, tak mudah menjalankan proyek dirgantara dan butuh kehati-hatian. Habibie saat itu mengatakan bahwa proyek pesawat nasional Indonesia ”dibunuh” lembaga keuangan dunia seiring krisis tahun 1997-1998. ”They killed my project,” kata Habibie dihadapan para pekerja Comac. Habibie cerita bagaimana 16.000 teknisi dirgantara Indonesia akhirnya tercerai-berai karena berbagai proyek industri dirgantara terhenti. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :