;

Aku Kirim Kue, maka Aku Ada

Aku Kirim Kue, maka Aku Ada

Kue kering menjelma menjadi kiat modern masyarakat untuk bersilaturahmi. Mereka memesan lalu mengungkapkan afeksi dengan mengirim hamper atau parsel. Tanpa tatap muka, penerima tetap merasakan kehangatan interpersonal.”Kalau lihat banyaknya pesanan, sekarang saja sudah mepet,” ujar pemilik Goyantie Baked Store, Goyantie (46), di Duri Kosambi, Jakarta, Kamis (21/3). Sehari sebelumnya, pesanan hamper sudah distop, menyusul kue dalam stoples, pekan lalu. Yantie, demikian sapaannya, bakal dikejar tenggat hingga 8 April sebelum meliburkan para pekerjanya. Konsumen individu dari kue-kue yang telah diproduksi sejak tahun 1993 itu digenapi perusahaan swasta, BUMN, hingga multinasional.

Sekitar 180 stoples kue diproduksi per hari, jauh lebih banyak dibandingkan jumlah setiap minggu saat normal, 120 stoples. Nastar dan kastengel paling disukai konsumen dengan harga Rp 220.000 dan Rp 230.000 per stoples isi 700 gram. ”Pemesan kirim ke Sabang sampai Merauke. Ada juga yang dibawa ke luar negeri, seperti AS, Jepang, dan Taiwan,” tuturnya. Saat ini, Yantie menerima order rata-rata dari 10 pemesan per hari. Sekitar 70 persen kue dipesan untuk dikirim kepada handai tolan, keluarga, sampai mitra bisnis.

”Hanya sebagian kecil yang dikonsumsi sendiri. Memang, sudah makin tren kue yang dikirim, jadi semacam pengganti pertemuan,” ujarnya. Sejarawan Departemen Sejarah dan Filologi Unpad, Fadly Rahman, memaparkan, tukar-menukar kue saat Lebaran sudah terjadi sejak masa kolonialisme. Meminjam pandangan filsuf Perancis, Rene Descartes, diadaptasi pada zaman kekinian, ”Jadinya, aku kirim kue, maka aku ada, karena kehadiranku sudah diwakili kue,” ujar Fadly. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :