Akses untuk Kuliah Semakin Berat
Akses pendidikan dasar dan menengah di Indonesia semakin
membaik dengan pembiayaan yang terjangkau, bahkan gratis untuk sekolah negeri.
Sebaliknya, akses untuk kuliah di perguruan tinggi Indonesia masih berat karena
tingginya biaya kuliah dan minimnya anggaran pendidikan tinggi yang disediakan negara.
Plt Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Nizam, di
Jakarta, Rabu (13/3) mengatakan, anggaran fungsi pendidikan minimal 20 % APBN
belum mampu mendukung pembiayaan pendidikan tinggi di perguruan
tinggi negeri (PTN) sekalipun. Karena itu, pembiayaan pendidikan tinggi hingga
kini prinsipnya masih gotong royong, yaitu investasi bersama pemerintah dan masyarakat
serta pihak lain. Di acara bincang edukasi ”Mengupas Skema Terbaik dan
Ringankan Pendanaan Mahasiswa”, beberapa waktu lalu, Nizam memaparkan, dari
berbagai data yang dikompilasi tahun 2020, rata-rata total biaya pendidikan
Indonesia sekitar 2.000 USD atau Rp 28 juta per mahasiswa.
Dibandingkan India yang berkisar 3.000 USD, biaya di
Indonesia lebih murah 75 %, tapi, dibandingkan dengan Malaysia, biaya pendidikan
di Indonesia baru seperempatnya karena biaya kuliah di sana sekitar 7.000 USD AS
per mahasiswa. Hingga kini, subsidi biaya kuliah dari pemerintah dengan standar
minimum di PTN baru 28 % Anggaran Diktiristek tahun 2024 sekitar Rp 33,6
triliun, tetapi itu termasuk pendapatan negara bukan pajak (PNBP) atau dana
masyarakat sekitar Rp 7 triliun. Saat ini sebagian besar anggaran Diktiristek
habis digunakan untuk belanja pegawai. ”Jika mau menyubsidi seperti di
Malaysia, butuh Rp 110 triliun atau empat kali lipat anggaran PTN, belum
bantuan PTS. Kalau mau seperti Australia, kebutuhan mencapai Rp 1.000 triliun,
tentunya tidak mungkin dengan APBN yang ada.
Karena itu, perlu pembiayaan gotong royong sebagai investasi bersama
pemerintah dan masyarakat untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang kompetitif,”
tutur Nizam. Dari alokasi Kemendikbudristek tahun 2023 sekitar Rp 81 triliun,
sepertiganya dialokasikan untuk jaring pengaman sosial afirmasi beasiswa anak
sekolah hingga mahasiswa. ”Anggaran untuk PTN saja masih kecil. Kalau bicara
kualitas, butuh pembiayaan lebih besar,” kata Nizam. Wakil Ketua Forum Rektor Indonesia
Didin Muhafidin mengatakan, biaya kuliah tinggi tidak terhindarkan. Sebab,
biaya operasional kampus, khususnya PTS, terus meningkat dan dibebankan kepada
mahasiswa. Biaya investasi juga meningkat dan inflasi tinggi. Didin juga
menyoroti kebijakan pemerintah yang ambigu sehingga beban biaya kuliah tinggi.
”Perguruan tinggi itu, kan, ditetapkan nirlaba, tapi perlakuannya tetap seperti
lembaga bisnis. Seharusnya ada perlakuan khusus bagi lembaga pendidikan tinggi
dari pemerintah pusat dan daerah,” ujar Didin. (Yoga)
Postingan Terkait
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023