Warga Rempang Mencoblos dalam Bayang-bayang Penggusuran
Warga Kampung Pasir Panjang di Pulau Rempang, Kota Batam,
Kepri, sudah berduyun-duyun ke TPS. Di bawah pokok mangga tepi pantai, di
Tempat Pemungutan Suara 009, itu masa depan kampung mereka jadi taruhan. Pasir
Panjang adalah satu dari lima kampung tua Melayu yang akan digusur pemerintah
untuk tahap pertama Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City, Batam,
Kepri. Lebih kurang ada 961 keluarga yang bakal terdampak. ”Saya nyoblos untuk
milih presiden yang lebih baik supaya anakku bisa dikeluarkan dari penjara,”
kata Ramli (53), Selasa (14/2). Anak Ramli, Rafi (23), sudah lima bulan
meringkuk di balik jeruji. Ia adalah salah satu dari 35 demonstran aksi bela
Rempang yang ditangkap polisi seusai ricuh di depan Kantor Badan Pengusahaan
(BP) Batam pada 11 September 2023. Warga lain, Sarmik (72), mengatakan bahwa ia
datang ke TPS untuk memperjuangkan kampungnya. Ia memilih pemimpin yang dirasa
akan mendengarkan suara warga Rempang yang menolak penggu- suran kampung tua
untuk PSN.
”Bisa saja ini adalah pemilu terakhir di kampung.Tergantung siapa
presiden yang terpilih. Kalau seperti presiden yang lama, kami jadi payah,”
ujarnya. Belum selesai Sarmik bicara, dua bus besar berhenti di ujung jalan
kampung tersebut. Orang-orang yang turun dari bus langsung berduyun-duyun menuju
TPS. ”Itu orang kampung yang setuju relokasi. Mereka sudah pindah ke Batam.
Kami menganggap mereka orang asing,” kata Sarmik sambil buru-buru meninggalkan
TPS. Bagi warga yang setuju direlokasi, pemerintah memberikan uang sewa rumah Rp
1,2 juta per keluarga setiap bulan. Selain itu, pemerintah juga memberikan uang
tunggu Rp 1,2 juta per kepala sampai rumah relokasi yang dijanjikan rampung
dibangun.
Warga yang menolak penggusuran langsung menjauhi TPS sampai
kelompok warga yang setuju relokasi selesai mencoblos. ”Kami semua saudara dan berbeda
pendapat itu harusnya hal biasa, termasuk soal setuju atau menolak relokasi,”
kata Arini (31). Keluarga Arini adalah salah satu dari lebih kurang 30 keluarga
di Pasir Panjang yang telah setuju pindah ke hunian sementara. Sejak lima bulan
lalu, ia tinggal di sebuah rumah kontrakan di Pulau Batam. ”Kami naik bus
ramai-ramai pulang lagi ke kampung karena penting sekali untuk memilih. Kampung
kami sedang bermasalah dan butuh solusi,” ujarnya. Antusiasme pemilih yang
tinggi di Rempang, dengan partisipasi 88,2 %, mengisyaratkan besarnya harapan
rakyat. Masa depan warga Rempang dan nasib kampung mereka ada di tangan
pemimpin baru. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023