EKSPANSI MAKASSAR NEW PORT : POROS PENGHUBUNG LOGISTIK TIMUR
Ekspansi kapasitas terminal peti kemas Makassar New Port diproyeksi bakal meningkatkan gairah aktivitas bongkar muat logistik di wilayah timur Indonesia. Aksi tersebut diperkirakan dapat membuka peluang-peluang baru tumbuhnya industri anyar di Bumi Ewako.
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 pun telah merancang sejumlah strategi untuk terus memacu pembangunan fisik Makassar New Port (MNP) guna memaksimalkan layanan bongkar muat sebagai persiapan menjadi hub bagi kawasan timur Indonesia. Regional Head 4 Pelindo Enriany Muis mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan perluasan area MNP untuk menunjang daya tampung lapangan penumpukan menjadi 2,5 juta TEUs. Peningkatan fasilitas itu akan segera diselesaikan dengan menambah panjang dermaga dari 320 meter menjadi 1.600 meter, serta luas lapangan yang juga akan diperbesar dari 39 hektare (ha) menjadi 55 ha.
Saat ini, imbuhnya, aktivitas bongkar muat di MNP masih didominasi oleh komoditas dalam negeri seperti barang campuran dan bongkaran kebutuhan pokok seperti beras dan semen.
Strategi itu a.l. penyiapan fasilitas dan infrastruktur yang modern, yaitu peralatan penanganan peti kemas berteknologi tinggi, fasilitas pendukung seperti ruang pengisian bahan bakar, perbaikan dan pemeliharaan, fasilitas pergudangan, hingga akses mudah menuju terminal.
Enriany mengatakan bahwa strategi selanjutnya adalah peningkatan layanan serta kepuasan pelanggan melalui peningkatan efektivitas dan efi siensi operasional, mengurangi waktu tunggu, meningkatkan keamanan dan keandalan layanan, serta memberikan dukungan teknis yang memadai.
Langkah ekspansi itu dinilai bisa mengeskalasi pertumbuhan ekonomi wilayah-wilayah yang ada di bagian timur Indonesia, terutama Sulawesi Selatan (Sulsel). Bahkan secara luas, pelabuhan baru ini bisa mempengaruhi pergerakan perekonomian nasional. Ekonom Universitas Hasanuddin (Unhas) Hamid Paddu menjelaskan bahwa pengembangan kapasitas MNP yang terus dilakukan jelas akan mendorong turunnya biaya logistik yang dibarengi volume perputaran barang semakin besar.
Hamid menjelaskan bahwa wilayah-wilayah di Indonesia Timur kini tinggal menyiapkan infrastruktur tambahan seperti akses langsung dari sentra produksi ke pelabuhan dan moda transportasinya, yang mana saat ini masih menjadi tantangan serius. Di Sulsel misalnya, infrastruktur pendukung seperti jalan tol hanya terdapat di Makassar, belum menjangkau daerah sekitarnya yang dikenal sebagai sentra produksi. Kereta api yang direncanakan mengangkut logistik juga pembangunannya belum tuntas.
Tak ayal, Hamid berpendapat bahwa infrastruktur menjadi persoalan utama, di mana transportasi bisa menghubungkan sentra produksi atau industri, dan kemudian bisa langsung menuju ke hubnya di masing-masing region wilayah, yaitu di pelabuhannya.
Tags :
#PelayaranPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023