;

Kemarau Panjang, Areal Pertanian di NTT Terancam Gagal Panen

Ekonomi Yoga 04 Jan 2024 Kompas
Kemarau Panjang, Areal Pertanian
di NTT Terancam Gagal Panen

Ancaman gagal panen menghantui para petani di NTT. Kemarau panjang membuat lahan mereka kekeringan dan diserang hama. Ketua Kelompok Tani ”Oetnana” di Kelurahan Fatukoa, Kota Kupang, Daniel Aluman (48), mengatakan, jagung dan tanaman lain yang mengandalkan hujan mengalami kekurangan air. Daun-daun tanaman menggulung. Padahal, umumnya tanaman jagung dan sorgum sudah siap panen. ”Jika hujan tidak turun sampai satu atau dua pekan ke depan, itu pasti gagal panen,” katanya, Rabu (3/1/2024). Hujan turun tidak merata di NTT. Hujan baru turun di pekan pertama Desember 2023. Petani pun ramai-ramai menanam tanaman. Namun, hujan tidak rutin turun di pekan-pekan selanjutnya. Daniel khawatir kondisi itu bakal melahirkan bencana baru, yakni munculnya serangan hama belalang dan ulat grayak.

Pengamatan di Desa Penfui Timur, Kabupaten Kupang, lahan pertanian sorgum dan jagung milik TNI AU setempat terpaksa menggunakan sistem irigasi tetes untuk menjaga ancaman kekeringan tanaman tersebut. Sebagian tanaman sorgum di desa itu sudah matang dan siap dipanen, pekan depan. Petani lain yang semata-mata bergantung dari air hujan juga terancam gagal panen. Mereka pun membiarkan tanaman jagung tumbuh bersama rerumputan. Agus Kase (54), petani Desa Bokong, Kecamatan Toianas, Timor Tengah Selatan, mengatakan, dirinya dan petani di wilayah itu mengandalkan tanaman yang tahan terhadap situasi kering. WilayahTTS bagian selatan selalu gagal panen setiap musim tanam tiba. Hujan kerap kali terlambat turun. Bnyak petani yang gagal panen, khususnya komoditas jagung. ”Kami di wilayah selatan TTS lebih mengandalkan ubi kayu, ubi jalar, pisang, kacang-kacangan, dan keladi. Petani yang memiliki lahan di dekat sungai bisa mengalirkan air sungai ke lahan itu,” tutur Kase. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :