Harga Pangan Masih Tinggi
Harga kebutuhan pokok yang naik sejak beberapa bulan lalu
masih melanjutkan tren kenaikan. Beberapa harga komoditas tak kunjung turun, di
antaranya cabai, bawang, dan beras. Tingginya harga komoditas tersebut membuat
daya beli masyarakat menurun. Di Pasar Induk Kramat Jati, Jaktim, Selasa (26/12)
harga eceran cabai rawit merah berkisar Rp 75.000-Rp 80.000 per kg, jauh lebih
tinggi dibandingkan harga normal pada hari-hari biasa yang berkisar Rp
40.000-Rp 50.000 per kg. ”Sudah sebulan lebih harga cabai naik. Sampai sekarang
belum turun. Harga dari pemasoknya juga masih tinggi,” kata Wahyudin (33),
penjual cabai di Pasar Induk Kramat Jati. Di Pasar Kramat Jati, harga cabai
rawit merah Rp 90.000 per kg. Meski lebih mahal dibandingkan dengan di pasar
induk, harga itu lebih baik daripada beberapa hari sebelumnya. Wiwin (42),
pedagang, mengatakan, tiga hari lalu harga cabai rawit merah Rp 100.000 per
kg.
”Kemarin-kemarin harganya sampai Rp 150.000 per kg. Ini sudah
mulai turun meskipun masih tinggi. Pas Tahun Baru belum tahu, mungkin nanti
bisa naik lagi,” kata Wiwin. Harga bawang merah dan bawang putih juga naik. Di
Pasar Induk Kramat Jati, harga bawang
merah Rp 40.000 per kg dan harga bawang putih Rp 33.000-Rp 35.000 per kg, naik hingga
rata-rata Rp 5.000 per kg dibandingkan sebelum Natal. Di Pasar Kramat Jati,
harga bawang merah dan bawang putih sama-sama Rp 40.000 per kg atau naik Rp 5.000
per kg. ”Biasanya orang beli sekilo, sekarang paling seperempat atau setengah
kilo,” kata Anik (50), salah satu pedagang di Pasar Kramat Jati. Di tempat itu,
harga beras juga masih tinggi. Harga beras pandan wangi Rp 16.000 per kg, IR42
Rp 14.500 per kg, dan Bulog Rp 13.000 per kg. Harga itu masih jauh dari HET
zona I untuk beras medium, yakni Rp 10.900.
Kenaikan harga juga terjadi sejak September lalu. ”Ini bukan
naik lagi namanya, tapi enggak terkendali. Harga beras kalau naik enggak pernah
turun lagi,” kata Udin (51), pedagang beras di Pasar Kramat Jati.Tingginya
harga bahan pokok membuat sejumlah warga
membatasi jumlah pembelian. Riana (34),
warga Kebayoran Lama, misalnya, hanya membeli cabai merah seperempat kg. Ia
mengaku mengurangi membuat menu sambal karena harga cabai masih ”pedas”. Menurut
dia, tak mudah mengatur uang belanja di tengah lonjakan harga bahan pokok. Ia
harus pintar-pintar mengatur uang belanja agar pengeluaran tidak membengkak. ”Saya
belanja sayur dan lauk yang harganya terjangkau, yang penting cukup untuk
sekeluarga,” ucapnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023