;

Sektor Perikanan Aceh Menanti Investasi

Ekonomi Yoga 07 Dec 2023 Kompas
Sektor Perikanan Aceh Menanti Investasi

Sektor perikanan Aceh berkontribusi positif pada perekonomian daerah. Namun, pengembangan sektor ini masih minim karena seretnya investasi. Keseriusan daerah menggaet investor diperlukan untuk mengatasi persoalan ini. Pada 7 Desember 2023, Provinsi Aceh genap berusia 67 tahun. Dengan ditopang dana otonomi khusus sejak 2006 hingga 2027, pembangunan Aceh terus bergulir. Namun, pada kenyataannya angka kemiskinan Aceh masih lebih tinggi daripada rata-rata kemiskinan nasional. Indikator Kesejahteraan Rakyat Provinsi Aceh yang dirilis BPS Aceh 30 November 2023 menyebutkan, angka kemiskinan Aceh pada Maret 2023 sebesar 14,45 % atau 806.750 orang dari 5,482 juta jiwa, lebih tinggi daripada rata-rata kemiskinan nasional sebesar 9,36 %. Situasi ini ironi di tengah potensi sumber daya alam di Aceh yang belum banyak disentuh.

Sebelum dana otonomi khusus berakhir, Aceh mesti mempersiapkan sumber-sumber lain untuk menopang fiskal daerah. Salah satu sektor yang memiliki peluang besar di Aceh ialah perikanan. Dalam buku laporan kinerja Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh disebutkan, produksi perikanan tangkap setiap tahun sejak 2018 hingga 2022 terus meningkat. Pada 2018, produksi perikanan Aceh 288.034 ton dan menjadi 309.073 ton pada 2022. Produktivitas itu tercatat lebih tinggi dalam data statistik KKP yang menyebutkan, pada 2022, produksi perikanan tangkap Aceh 324.618 ton. Aceh pun menjadi provinsi dengan tangkapan kedua terbanyak di Sumatera dan nomor delapan di Indonesia. Sebagian ikan dari Aceh diekspor ke luar negeri, yakni Jepang, AS, China, Eropa, dan Arab Saudi. Catatan dari DKP Aceh tahun 2022 menyebutkan, nilai ekspor ikan mencapai 15,92 juta USD dengan total ekspor 3.417 ton. Perairan Aceh menyimpan potensi perikanan tangkap 272.000 ton per tahun yang seharusnya dapat diolah lebih baik dan ditingkatkan untuk mendongkrak kesejahteraan warga.

Warga yang berjibaku di sektor perikanan pun masih merasakan sejumlah kendala. Heri Fahmi (45), pengusaha kapal perikanan di dermaga Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lampulo, Kota Banda Aceh, Minggu (3/12), mencatat timbangan keranjang ikan yang diturunkan dari kapal. Sekali bongkar kapal ukuran 60 gross tonnage (GT), ia mendapatkan 20 ton ikan campuran. Sebagian ikan dijual di pasar Banda Aceh, sisanya dikirim ke Sumut. ”Perikanan Aceh sangat menjanjikan. Jenis ikannya beragam dan tangkapan melimpah,” kata Heri yang memiliki empat unit kapal. Ia kerap terkendala kelangkaan solar, es yang tak mencukupi, ataupun dermaga yang dangkal. ”Sarana masih terbatas. Kita sangat butuh investasi agar sektor perikanan cepat berkembang,” katanya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :