Balada Masyarakat Makan Tabungan
Satu tahun terakhir ini, Trixy (27) kesulitan menabung.
Dulu, ia bisa menyisihkan pemasukannya untuk ditabung di bank atau diinvestasikan
dalam bentuk emas dan valuta asing (valas). Setidaknya Rp 500.000 dari gaji
bulanannya yang sekitar Rp 5 juta ditabung. Namun, belakangan, simpanannya
semakin sering ditarik untuk mencukupi kebutuhan hidup. Apalagi, setelah orangtuanya
pensiun, Trixy jadi tulang punggung keluarga. Tabungannya paling lama hanya
bertahan dua bulan sebelum diputar lagi untuk macam-macam kebutuhan. ”Dulu
waktu awal-awal kerja, punya rencana mulia mau rutin nabung, investasi. Tapi, namanya
hidup ada aja,” katanya saat dijumpai, Kamis (23/11). Trixy kini tidak bisa
lagi menabung secara rutin. Terlebih, gajinya cenderung jalan di tempat setelah
enam tahun bekerja. Kalah dengan biaya hidup yang naik lebih cepat dan lebih
tinggi.
Ongkos transportasi untuk bekerja memakai ojek daring naik
20 % satu tahun terakhir ini. Dalam sebulan, ia harus menyisihkan Rp 1,5 juta
untuk transportasi. Urusan rumah dan kebutuhan pokok bulanan juga naik, dari Rp
2 juta mendekati Rp 3 juta. Tabungannya tak hanya terpakai untuk kebutuhan
pokok. Trixy juga harus mengeluarkan uang untuk tuntutan pergaulan meski ia
berusaha tidak terlalu ”hedon”. Ia dan teman-temannya, misalnya, mulai ”nongkrong”
di kos atau rumah ketimbang kafe atau mal. Namun, ada saja ongkos yang harus
dibayar untuk menjadi manusia yang aktif di masyarakat. ”Kebetulan ini tahun
nikahan. Teman dekat yang nikah sampai 11 orang. Ikut happy pasti, tetapi
enggak mungkin, kan, enggak kasih amplop, patungan bridal shower, atau kasih
kado,” kata karyawati swasta asal Surabaya itu.
Berdasarkan kajian terbaru Mandiri Spending Index (MSI) per
November 2023, meski tingkat konsumsi masyarakat terjaga, nilai tabungan
kelompok bawah (setara masyarakat kelas menengah-bawah) dengan saldo di bawah
Rp 1 juta terus turun sejak awal 2022 hingga sekarang. Terutama, sejak Lebaran.
Per November 2023, indeks tabungan masyarakat menengah-bawah anjlok ke level 47,4,
terendah dalam nyaris dua tahun terakhir ini. Sebagai perbandingan, pada Juli
2023, indeks tabungan kelompok ini masih di level 83. Seiring berkurangnya
tabungan, indeks belanja mereka mulai melambat meski masih tum- buh di level
269,2. ”Tabungan kelompok ini berkurang sangat dalam, sudah 53 % sejak tahun lalu.
Dampak dari tabungan yang terus terpakai untuk konsumsi itu mulai terlihat,
kemampuan belanja mulai turun,” kata Head of Mandiri Institute Teguh Yudo
Wicaksono. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Anggaran 2025 Terancam Membengkak
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023