;

Pasien Ada, Obat Tak Ada

Pasien Ada, Obat Tak Ada
JAKARTA – Bagi orang yang terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV), obat anti-retroviral (ARV) mutlak diperlukan untuk menekan perkembangan virus tersebut. Tidak terkecuali bagi anak kecil. Sayangnya, obat untuk para pasien cilik itu tidak tersedia. “Di Indonesia, ARV tersedia dalam jumlah dan jenis yang banyak, tapi tidak untuk anak,” ujar Ketua Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) Ayu Oktariani pada 23 November 2023. 

Perempuan yang didiagnosis HIV sejak 2009 itu menjelaskan bahwa ada sedikitnya tiga jenis ARV, yaitu nucleotide reverse transcriptase inhibitor (NtRTI), nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NRTI), dan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Ia menyebutkan selama ini yang terjadi adalah obat ARV bagi orang dewasa dosisnya disesuaikan untuk takaran anak. Permasalahannya, tidak semua obat ARV yang diterima pasien sudah dalam dosis sesuai dengan takaran. Ada yang hanya diberi instruksi untuk membaginya menjadi beberapa bagian. “Sekarang seberapa banyak kita bisa pastikan sama dosisnya?” ujarnya. 

IPPI pernah memperjuangkan perihal obat ARV anak. Sayangnya, pemerintah belum bisa mengakomodasi karena alasan jumlah anak dengan HIV masih sedikit dan belum memenuhi kuota pengadaan. Data Kementerian Kesehatan periode Januari-Maret 2022 menyebutkan ada 20 bayi usia di bawah 18 bulan yang terkonfirmasi terinfeksi HIV/AIDS. Hasil itu didasarkan pada pengujian terhadap 358 bayi dari ibu yang positif terinfeksi HIV. “Angka itu besar dan belum ditambahkan jumlah tahun kemarin,” ujar Riama, Manajer Lentera Anak Pelangi—program pendampingan anak dengan HIV di Jakarta. Jika diakumulasikan dari data Kemenkes antara 2017 dan Maret 2022, jumlah bayi yang lahir positif HIV dari ibu HIV adalah 652 bayi. (Yetede)

Tags :
#Kesehatan
Download Aplikasi Labirin :