KETAHANAN PANGAN : PEREBUTAN BERAS KIAN MEMANAS
Ketahanan pangan Indonesia diproyeksikan makin sensitif pada masa mendatang, menyusul penurunan produksi beras dan maraknya restriksi dari negara eksportir. Komoditas beras bakal menjadi buruan banyak negara yang berstatus importir pangan. Saking pentingnya beras, sejumlah negara mulai menerapkan restriksi ekspor terhadap komoditas pangan strategis itu. Kesimpulan itu diungkap oleh Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad dalam acara Bisnis Indonesia Business Chalengges (BIBC) 2024 di Jakarta, Kamis (23/11). Menurutnya, sensitivitas komoditas pangan menemukan bentuknya setelah terjadi perubahan iklim yang cepat dengan munculnya fenomena El Nino dan El Nina. Dia juga memprediksi negara yang tidak memiliki ketahanan pangan cukup baik akan kesulitan mengendalikan inflasi. Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal menyatakan ada kemungkinan India memperpanjangan larangan ekspor berasnya sampai dengan 2024. Namun, dia meyakini masih ada negara alternatif lainnya yang bisa diandalkan untuk memenuhi penugasan impor beras tahun ini dan 2024. Oleh karena itu, sikap India yang berencana memperpanjang restriksi ekspor berasnya bukan menjadi tantangan. “Negara lain yang menghasilkan itu kan bisa menjadi sumber, tidak bergantung pada India, kan masih ada beberapa negara lainnya,” kata Iqbal kepada Bisnis. Pemerintah telah memberikan kuota impor kepada Bulog sepanjang 2023 sebanyak 3,5 juta ton. Sebanyak 2 juta ton di antaranya telah dieksekusi pengadaan oleh Bulog dan ditargetkan rampung pada November ini. Sementara itu, sisa kuota impor beras 1,5 juta ton di akhir tahun ternyata hanya bisa dipenuhi kontraknya sebanyak 1 juta ton oleh Bulog. Artinya, ada sisa kuota 500.000 ton impor beras tahun ini yang gagal dipenuhi. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 15 November 2023 mencatat nilai impor beras Indonesia pada Oktober 2023 sebesar US$196,7 juta dengan negara asal Thailand, Vietnam dan Myanmar. Dalam acara Asean-India Millets Festival 2023, Rabu (22/11), Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste Rajendra Aryal menyatakan bahwa sikap India menutup keran ekspor beras non-basmati telah menjadi kekhawatiran bagi sejumlah negara yang menggantungkan pasokannya dari Negara Para Dewa itu. Sementara itu, Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andriko Noto Susanto mengatakan langkah India mengenalkan milet sebagai sumber alternatif pangan ke secara global perlu menjadi contoh bagi Indonesia.
Tags :
#PanganPostingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023